Showing posts with label tugas. Show all posts
Showing posts with label tugas. Show all posts

Thursday, April 22, 2010

EFEK KOMUNIKASI POLITIK

Teori klasik Harold D. Lasswel selalu menjadi titik tolak penentuan unsur-unsur dalam suatu proses komunikasi. Demikian juga dengan komunikasi politik. Teori tersebut mengemukakan lima unsur fundamental komunikasi: who (komunikator), says what (pesan), to whom (komunikan), in which channel (media), with what effect (dampak).
Effect atau dampak adalah suatu keniscayaan dalam komunikasi. Setiap proses komunikasi memiliki tujuan-tujuan yang --this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--spesifik. Begitu pula dengan komunikasi politik. Ditinjau dari bahasanya, komunikasi berasal dari kata ‘common’ yang artinya ‘sama’. Komunikasi bertujuan untuk menyamakan. Efektifitas komunikasi dinilai dari seberapa jauh kesamaan antara komunikator dan komunikan. Entah itu sama dari tataran pengetahuan atau informasi, sama sikap, hingga sama tindakan atau prilaku. Hal inilah yang dikonsepsikan sebagai dampak komunikasi.
Kita mengindikasi dampak dengan tiga tingkatan:
1. Kognitif
Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya.
2. Afektif
Efek ini kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif. Komunikan yang terdapat dampak afektif mulai memberi sikap atas suatu informasi. Bukan hanya berhenti pada tataran tambahan pengetahuan (kognitif).
3. Konatif/ behavioral
Efek behavioral/ konatif ini kaitannya pada prilaku komunikan setelah proses komunikasi berlangsung.
Ketika sikap dan prilaku komunikan sesuai harapan komunikator, maka itu dapat digolongkan sebagai komunikasi efektif. Namun tidak semua proses komunikasi, konteks apapun itu, bisa berakhir di tingkatan konatif atau behavioral.
Teori tiga tingkatan --this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--dampak ini bisa direfleksikan dalam teori Dan Nimmo mengenai efek politik. Dan Nimmo memperkenalkan empat efek penting komunikasi:
1. Sosialisasi Politik
Manusia tidak dilahirkan dengan membawa kepercayaan, nilai, dan penghargaan politik. Seorang anak menjadi terbuka terhadap komunikasi yang relevan dengan politik melalui komunikasi interpersonal, organisasi, dan komunikasi massa.
Komunikasi interpersonal mengaja anak mengungkap identitas nasional dan partisan dan menilai politik pemerintah, dan fugur autoritas.
Komunikasi organisasi, utamanya di sekolah, menambahkan informasi faktual, memperoleh kesadaran akan kewajiban kewarganegaraan personal bukan kolektif.
Komunikasi massa, anak mengikuti politik sebagai berita, memperoleh pengetahuan politik dan mengembangkan beberapa orientasi evaluatif, dan mulai ambil bagian afektif dalam politik.
2. Partisipasi Politik
Melalui sosialisasi politik, manusia mengembangkan kepercayaan, nilai dan pengharapan yang relevan dengan politik. Bagaimana seseorang berpartisipasi secara penuh dalam politik tergantung pada kuatnya sosialisasi politik yang ia dapatkan. Keterbukaan terhadap komunikasi politik dapat mempengaruhi orang agar secara aktif dapat terlibat dalam politik. Meski di samping itu, komunikasi politik bisa menekan partisipasi politik.
Konsekuensi komunikasi politik bisa primer dan sekunder. Akibat primer terjadi jika orang yang dipengaruhi itu telah melibatkan diri secara langsung ke dalam --this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--proses komunikasi. Akibat sekunder terjadi jika orang tidak terlibat secara langsung dalam komunikasi terpengaruh oleh perubahan pada orang yang terlibat.
3. Mempengaruhi Pemilu
Propaganda, retorika, periklanan, promosi yang dilakukan oleh komunikator politik tak lain dan tidak bukan merupakan upaya komunikator politik untuk mendapatkan suara dalam sebuah pemilu.
Melalui perspektif seorang komunikan politik, yang telah belajar mengidentifikasikan diri dengan lambang-lambang politik yang signifikan, akan mengklaim dirinya. Ia, sebagai individu, mengembangkan citra dirinya sebagai bagian dari representasi politik.
4. Mempengaruhi Pejabat
Komunikasi politik selalu menganai komunikasi dua arah antara warga negara dan pejabat. Dalam setiap kajian komunikasi politik, terdapat diskusi mengenai keterkaitan opini publik dan kebijakan pemerintah.
Daftar Pustaka:
Ardianto, Elvinaro, dkk. 2007. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Nimmo, Dan. 2005. Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: Rosda.
Nimmo, Dan. 2001. Komuniasi Politik: Khalayak dan Efek. Bandung: Rosda.



MEDIA & KHALAYAK KOMUNIKASI POLITIK

Teori klasik Harold D Lasswell mengemukakan lima elemen komunikasi, atau dalam hal ini, komunikasi politik: Who-says what-in which channel-to whom-with what effect. Who adalah komunikator, what berarti pesan, channel adalah media atau saluran, whom berarti komunikan, dan effect adalah dampak.
Pesan politik adalah lambang-lambang pembicaraan politik yang bisa merupakan kata-kata, gambar, dan tindakan. Atau kombinasi dari ketiga hal tersebut. Komunikator politik menyampaikan bentuk-bentuk simbolik dan kombinasinya ini dengan berbaga teknik dan media.
Teknik dan media tersebut antara lain:
1. Secara lisan, melalui pembicaraan personal
2. Melalui cetakan, seperti koran dan majalah
3. Teknik elektronik, seperti radio atau televisi

Maka, dapat dipahami bahwa saluran (channel) komunikasi politik adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Bahkan, dalam buku Dan Nimmo, disebutkan bahwa manusia juga merupakan saluran paling asasi dalam komunikasi. Dan Nimmo mengutip --this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--George Miller yang menegaskan bahwa kita harus menganggap manusia sebagai saluran komunikasi, dengan masukan yang disediakan oleh rangsangan (input) yang kita berikan dan keluaran (output) yang merupakan tanggapannya terhadap ransangan itu.
Dengan kata lain, saluran komunikasi itu lebih daripada sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat berbicara kepada siapa, mengenai apa, dalam keadaan bagaimana, sejauh mana dapat dipercaya (Shibutani : 1966 dalam Nimmo : 1989).
Ada tiga tipe media komunikasi politik, yaitu (1) Komunikasi Massa, yang terdiri atas dua jenis: komunikasi tatap muka, seperti ketika kandidat politik berbicara di depan khalayak. Dan melalui perantara, seperti televisi. (2) Komunikasi Interpersonal, bisa berbentuk tatap muka atau melalui perantara, (3) Komunikasi Organisasi, menggabungkan penyampaian satu kepada satu dan satu kepada banyak.
Komunikasi merupakan perbuatan gabungan, atau transaksi antara sumber dan penerima. Khalayak komunikasi politik bukanlah wadah yang pasih yang ke dalamnya --this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--para pemimpin politik dengan berbagai karakteristik dan motif hanya menuangkan beraneka imbauan dengan menggunakan bahasa, simbol, peranti, dan media yang menarik. Alih-alih, penerima adalah partisipan yang aktif dalam komunikasi dengan sumber.
Jika berbicara mengenai khalayak komunikasi politik, maka pembicaraan tak akan lepas dari opini publik. Opini publik adalah abstraksi dari khalayak komunikasi politik. Khalayak yang heterogen mengkristal menjadi opini publik.

KOMUNIKATOR POLITIK (Dalam Unsur-Unsur Komunikasi Politik)

Harold D. Lasswell seorang tokoh politik yang juga menggagas kajian komunikasi politik melalui bukunya “Propaganda Technique in the World War” (1972), mengemukakan teori klasik:
Who-says what-in which channel-to whom-with what effect
Dalam ilmu komunikasi, Who adalah komunikator, what merupakan pesan, channel adalah media, whom adalah komunikan, effect yaitu dampak yang dihasilkan dari komunikasi tersebut. Teori klasik ini kemudian banyak --this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--direfleksikan ke dalam kajian-kajian lain, termasuk kajian politik. Teori tersebut lalu menjadi:
Siapa-mendapatkan apa-kapan-dan bagaimana
Salah satu defenisi ilmu politik yang umum, yakni ilmu politik merupakan ilmu tentang kekuasaan. Jadi, dalam refleksi teori Harold D. Lasswell tadi, berfokus pada siapa yang mendapatkan kekuasaan, kapan dan bagaimana. Komunikasi Politik sendiri adalah suatu bidang atau disiplin yang menelaah prilaku dan kegiatan komunikasi yang bersifat politik, mempunyai akibat politik, atau berpengaruh terhadap prilaku politik.
Komunikasi politik sebagai Body of Knowledge juga terdiri atas berbagai unsur, yakni: sumber (komunikator), pesan, media, penerima, dan efek (Nimmo: 1978, Mansfield dan Weaver: 1982, Dahlan: 1990 dalam Cangara: 2009)

1. Komunikator Politik
Komunikasi politik tidak hanya menyangkut partai politik, melainkan juga lembaga pemerintahan legislative, dan eksekutif. Dengan demikian, sumber atau komunikator politik adalah mereka-mereka yang dapat memberi informasi tentanghal-hal yang mengandung makna atau bobot politik, misalnya presiden, menteri, DPR, MPR, KPU, --this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--gubernur, bupati, DPRD, Politisi, fungsionaris partai politik, fungsionaris Lembaga Swadaya Masyarakat, dan kelompok-kelompok penekan yang bisa memengaruhi jalannya pemerintahan
2. Pesan Politik
Pesan politik adalah pernyataan yang disampaikan, baik secara tertulis maupun tidak tertulis, baik secara verbal maupun nonverbal, tersembunyi maupun terang-terangan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari, yang isinya mengandung bobot politik.
3. Media Politik
Saluran atau media politik ialah alat atau sarana yang digunakan oleh para komunikator dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya.
4. Sasaran atau Target Politik
Sasaran adalah anggota masyarakat yang diharapkan dapat memberi dukungan dalam bentuk pemberian suara --this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--(vote) kepada partai atau kandidat dalam pemilihan umum.
5. Pengaruh atau Efek Komunikasi Politik
Efek komunikasi politik yang diharapkan adalah terciptanya pemahaman terhadap sistem pemerintahan dan partai-partai politik, di mana nuansanya akan bermuara paa pemberian suara atau vote dalam pemilihan umum.


Wednesday, March 3, 2010

Komunikasi Politik: An Introduction

A. PENGERTIAN KOMUNIKASI POLITIK

Komunikasi dan Politik merupakan dua bidang kajian ilmu yang berbeda. Komunikasi dirumuskan sebagai ilmu mengenai kegiatan komunikasi manusia, baik dari tataran intrapersonal, interpersonal, kelompok, organisasi, massa, dan lain sebagainya. Politik sendiri merupakan ilmu tentang negara, “politics is the science which is concerned with the state…” (Kaspar Bluntscheli), atau ilmu tentang kekuasaan.

Terintegrasinya kedua disiplin ini melahirkan suatu studi interdisiplin yang membicarakan tentang studi aspek-aspek politik dari komunikasi publik. Pembahasannya bersentuhan dengan media sebagai medium pengelolaan kesan. Komunikasi Politik turut pula mengkaji propaganda-proganda dan agitasi-agitasi akibat hubungan antara aktor-aktor politik dan aktor-aktor media. Lebih spesifik lagi, objek kajian Komunikasi Politik, antara lain: Perilaku Penguasa, Pola Keyakinan dan Pendapat Umum (Public Opinion).

Kajian komunikasi politik pada awalnya berakar pada ilmu politik, meskipun penamaannya lebih banyak dikenal dengan istilah propaganda. Ini dimulai pada tahun 1922 dengan penelitian dari Ferdinand Tonnies dan Walter Lippmann yang meneliti opini publik. Praktik propaganda lalu berkembang pesat menjelang Perang Dunia II, ketika NAZI Jerman berhasil melakukan ekspansi di bawah propaganda Dr. Joseph Gobbel.

Semenjak itu, ilmu propaganda terus berkembang karena kesadaran para ilmuwan tentang kegunaaanya. Propaganda tidak lagi berkonotasi negatif dan amoral. Lasswell merintis satu karya “Propaganda Technique in the World War” (1972) yang banyak memperoleh perhatian dan pengembangan, hingga kemudian menjadi satu interdisiplin dengan nama “Komunikasi Politik”.

Secara filosofis kajian komunikasi politik adalah hakikat kehidupan manusia untuk mempertahankan hidup dalam lingkup berbangsa dan bernegara. Setiap negara akan selalu berorientasi kepada fungsi primer negara yaitu tujuan negara. Tujuan ini dapat dicapai apabila terwujud sifat-sifat integratif dari semua unsur penghuni negara.

B. KAITAN KOMUNIKASI DAN POLITIK

Menurut Lucian Pye, antara Komunikasi dan Politik mempunyai hubungan erat yang istimewa karena berada dalam kawasan atau domain politik dengan menempatkan komunikasi pada posisi yang sangat fundamental. Galnoor mengatakan bahwa tanpa komunikasi , tidak akan ada usaha bersama, sehingga tidak ada politik.”

Almond dalam Alfian (1990) melihat bahwa komunikasi merupakan salah satu masukan yang menentukan bekerjanya semua fungsi dalam sistem politik. Ibaratnya sistem sirkulasi darah dalam tubuh yang mengalirkan pesan-pesan politik berupa tuntutan, protes, dan dukungan (aspirasi dan kepentingan), ke jantung (pusat) pemrosesan sistem politik. Komunikasi politik menyambungkan semua bagian dari sistem politik sehingga aspirasi dan kepentingan dikonversikan menjadi berbagai kebijaksanaan.

Almond berpendapat bahwa komunikasi politik adalah salah satu dari tujuh fungsi yang dijalankan oleh setiap system politik. Ketujuh fungsi itu adalah sebagai berikut: komunikasi politik; sosialisasi dan rekrutmen politik; artikulasi kepentingan; agregasi kepentingan; pembuatan aturan; aplikasi aturan; pengadilan atas pelaksanaan aturan (rule adjudication).

C. DEFENISI KOMUNIKASI POLITIK

Secara sederhana, komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, Gabriel Almond (1960) berpendapat bahwa komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. “All of the functions performed in the political system, political socialization and recruitment, interest articulation, interest aggregation, rule making, rule application, and rule adjudication,are performed by means of communication.” Komunikasi politik merupakan proses penyampaian pesan-pesan yang terjadi pada saat keenam fungsi lainnya itu dijalankan. Hal ini berarti bahwa fungsi komunikasi politik terdapat secara inheren di dalam setiap fungsi sistem politik.

Meadow (1980) juga membuat defenisi bahwa “political communication refers to any exchange of symbols or messages that to a significant extent have been shaped by or have consequences for political system”. Meadow memberi tekanan bahwa symbol-simbol atau pesan yang disampaikan itu secara signifikan dibentuk atau memiliki konsekuensi terhadap sistem politik.
Nimmo mendefinisikan komunikasi politik sebagai ”communication (activity) considered by virtue of its consequences (actual or potential) which regulate human conduct under the condition of conflict”. Atau kegiatan komunikasi yang berdasarkan konsekuensi-konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik. Definisi ini menggunakan pendekatan konflik (baca: pandangan politik).

Roelofs (dalam Sumarno & Suhandi, 1993) mendefinisikan komunikasi politik sebagai komunikasi yang materi pesan-pesan berisi politik yang mencakup masalah kekuasaan dan penempatan pada lembaga-lembaga kekuasaan (lembaga otoritatif). Definisi ini menggunakan pendekatan kekuasaan dan kelembagaan (baca: pandangan politik).

Sedang menurut Perloff, Komunikasi Politik adalah “Process by which a nation’s leadership, media, and citizenry exchange and confer meaning upon messages that relate to the conduct of public policy.”

Menurut Dahlan (1999), Komunikasi Politik adalah suatu bidang atau disiplin yang menelaah prilaku dan kegiatan komunikasi yang bersifat politik, mempunyai akibat politik, atau berpengaruh terhadap prilaku politik.

McNair dalam bukunya “Introduction to Political Communication” (2003) menyatakan bahwa “political communication as pure discussion about the allocation of public resources (revenues), official authority (who is given the power to make legal, legislative, and executive decisions), and official sanctions (what the state rewards of punishes). Jadi, Komunikasi Politik menurut McNair murni membicarakan alokasi sumber daya publik yang memiliki nilai, apakah itu nilai kekuasaan, dan ekonomi. Orang yan memiliki kewenangan untuk memberi kekuasaan, membuat keputusan, dan kewenangan membuat perundang-undangan dan aturan, serta memberi imbalan atau denda.

Prof. Hafied Cangara dalam bukunya “Komunikasi Politik” (2009) menyatakan bahwa komunikasi politik adalah proses pengoperan lambang-lambang atau simbol-simbol komunikasi yang berisi pesan-pesan politik dari seseorang atau kelompok kepada orang lain dengan tujuan untuk membuka wawasan atau cara berpikir, serta memengaruhi sikap dan tingkah laku khalayak yang menjadi target politik.

Miriam Budiardjo juga merumusan Komunikasi politik sebagai salah satu fungsi partai politik, yakni menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa –“penggabungan kepentingan” (interest aggregation” dan “perumusan kepentingan” (interest articulation) untuk diperjuangkan menjadi public policy.

Jack Plano dalam Kamus Analisa Politik, mengartikan Komunikasi Politik sebagai penyebaran aksi, makna, atau pesan yang bersangkutan dengan fungsi suatu sistem politik, melibatkan unsur-unsur komunikasi seperti komunikator, pesan, dan lainnya. Kebanyakan komunikasi politik merupakan lapangan wewenang lembaga-lembaga khusus, seperti media massa, badan informasi pemerintah, atau parpol. Namun demikian, komunikasi politik dapat ditemukan dalam setiap lingkungan sosial, mulai dari lingkup dua orang hingga ruang kantor parlemen.

Situs ensikolpedi Wikipedia menyatakan “Political communication is a field of communications that is concerned with politics. Communication often influences political decisions and vice versa.”

Kajiannya meliputi (1) Election campaigns - Political communications deals with campaigning for elections. Dan mengenai (2) Political communications as one of the Government operations.

SUMBER

Cangara, Hafied. 2009. Komunikasi Politik. Jakarta: Rajawali Press.

http://tengkudhaniiqbal.wordpress.com/2006/08/04/komunikasi-politik-sebuah-neologisme/

http://adiprakosa.blogspot.com/kajian-komunikasi-politik-1/

http://massofa.wordpress.com/teori-pendekatan-komunikasi-politik

http://ibnusalam.tripod.com/kompol.html

http://oki-sukirman.blogspot.com/teori-komunikasi-politik.html

Saturday, December 26, 2009

Peak Hours Part 2


[Behind The Scene] PARADOKS: Journalist in Perception
Statement : “What the people think, and what the facts say.”
Duration : 9.30 min
PH : ForOur Production
Producer : Chaerunnisa Nurdin
Production Manager : St. Ulfah Rani
Director : Raidah Intizar
Ast. Director : Feriasmita, Ahmad Yani.
DOP : Taufiq
Camera Person : Chaerunnisa Nurdin
Narrator : St. Ulfah Rani
Editor : Taufiq

“Ini adalah mata kuliah pilihan, dengan kata lain standar untuk mata kuliah ini tentunya lebih tinggi dari pada yang lain.” Atas landasan itulah Bang Soni memberi kami tugas luar biasa sulit: membuat film dokumenter.

Dalam pengertian yang kususun dari berbagai sumber, Dokumenter adalah:

Film dokumenter, dipahami sebagai film yang mendokumentasikan kenyataan. Istilah "dokumenter" pertama kali digunakan dalam resensi film Moana (1926) oleh Robert Flaherty, ditulis oleh The Moviegoer, nama samaran John Grierson, di New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926.

Di Perancis, istilah dokumenter digunakan untuk semua film non-fiksi, termasuk film mengenai perjalanan dan film pendidikan. Berdasarkan definisi ini, film-film dahulu seluruhnya adalah film dokumenter. Mereka merekam hal sehari-hari, misalnya kereta api masuk ke stasiun, dan sebagainya. Pada dasarnya, film dokumenter merepresentasikan kenyataan. Artinya film dokumenter menampilkan kembali fakta yang ada dalam kehidupan. (id.wikipedia.org)

"This is a revolution - that anyone can make a movie and spread the word about something they believe deeply in, and find an audience that cuts across politics," kata Robert Greenwald, direktur Wall-Mart.

Menilik pengertiannya, membuat dokumenter idealnya tidak dilakukan serampangan, harus dengan rangkaian riset mengenai objek dokumentasi. Data valid, dan bisa dipertanggungjawabkan, serta di sisi yang sama, bisa menampilkan subjektivitas pembuat film.

Kelompokku terdiri dari Ulfah, Icha, Opi, Kak Mita dan Ahya. Dari sekian tema yang diundi hari itu, kami mendapatkan tema wartawan. Kelompok lain mendapatkan tema: nelayan, kuliner, pasar, taman baca, dan pemulung.

Sebenarnya aku sangat berharap bisa mendapat tema nelayan, pasar, atau pemulung. Semua hal yang berdekatan dengan masyarakat, rasanya memikirkan ide dari ketiga tema itu tidak akan sulit. Pasti ada hal menarik yang bisa didedah.

Nyatanya: wartawan! Kenapa harus wartawan?!

Belum pernah dalam hidupku, pikiranku sungguh menemui kebuntuan. Bagaimana kita membuat film dengan tema wartawan. Apa ada sosok wartawan yang spesifik memiliki keunikan sendiri? Atau haruskah mengangkat tema-tema sensitif seperti kebiasaan barter berita? Atau personalisasi saja?

Bingung.

Presentasi pertama kami, kami akan mengangkat tema yang sensitif: barter berita dan suap oleh oknum wartawan. Aku ragu dengan topik itu. Bagaimana merisetnya? Apakah memungkinkan? Nantinya, bagaimana mendapatkan pengakuan?

Bingung.

Kubiarkan ide-ideku keluar dulu, pelesir bersama sang waktu. Mungkin nanti dia akan kembali, membawa ide-ide baru.

Tapi sungguh gawat! Film belum selesai, deadline sekitar dua minggu lagi!

Keadaannya sudah status siaga dua, aku dan teman-temanku memutuskan riset di Warkop Dg. Anas, tempat wartawan biasa mangkal. Tepat saat kami turun dari mobil, wartawan-wartawan di tempat itu menatap kami seakan-akan kami alien yang baru turun dari UFO. Mereka merendahkan suara, agar dapat mendengar pembicaraan kami, melirik-lirik ke arah kami… sangat tertutup!

Bagaimana ini?

Dengan perasaan tak tuntas dari Dg. Anas, kami beralih ke PWI. Di sana kami disambut baik oleh sekretaris PWI, Pak Hasan, dia tahu benar kebutuhan kami, berjanji akan menyampaikannya kepada ketua PWI. Mereka akan mencari tahu, apa yang bisa mereka bantu.

Pada hari Kamis, Pak Hasan menelepon, meminta kami datang bertemu ketua PWI sehabis Jumatan besok. Kami menepati janji, dan ketua PWI juga datang tak lama setelah kami, Pak Zulkifli Gani Ottoh, komisaris FAJAR.

Pria yang tampak simpatik ini menanyai kami akan membuat dokumenter dari sisi apa? Lembaga atau personal? Kami menjawab personal. Pak Zul lalu menawarkan kami beberapa kehidupan wartawan yang bisa diangkat, wartawan yang adalah mahasiswa doktoral, serta wartawan yang penjual sayur.

Aku terilhami! Kenapa tidak membuat film dengan paradoks? Pertentangan sesuatu. Wawancara masyarakat, tanyakan pendapatnya tentang wartawan dan sajikan fakta yang berlawanan dengan pernyataan itu. Setidaknya ada dua versi wawancara.

Nah, ini semakin mudah. Sekarang tinggal bagaimana Pak Zul mengakomodasi kami untuk bertemu dengan wartawan-wartawan itu. Sangat disayangkan, kesibukan Pak Zul menjadi penghalang besar dalam mewujudkan film dokumenter kami.

Maka, dengan sedikit harapan pada beliau, kami beralih pada sumber mediator lain. Teman-teman menawarkan beberapa nama senior, mereka bilang Kak Budi atau Kak Iwan Taruna.

Saat sudah jelas Pak Zul tidak bisa memberi kami bantuan lagi (Pak Zul, di manakah Anda berada, Pak?), kami menghubungi Kak Iwan Taruna. Dari beliau kami mendapatkan dua wartawan paradoks: Pak Husein Abdullah (mantan direktur SUN TV, MNC), dan Adnan (fotografer media online ANTARA).

Pak Uceng tidak bisa dijadikan tokoh dokumenter, pasalnya beliau lagi di luar daerah. Pak Uceng mengarahkan kami pada Nasarullah Nara (dewan redaksi Kompas). Kasus yang sama, Nasarullah Nara lagi di luar daerah, Bang Nara mengalihkan kami pada Nur Korompot (ketua biro Bisnis Indonesia regional Indonesia Timur).

Maka, fix-lah hari itu: Adnan dan Nur Korompot menjadi dua wartawan dalam dokumenter paradoks kami.

Tetapi bagaimana membuat film kami berbeda? Film kelompok lain, disebut-sebut menyerupai berita feature atau laporan investigatif. Apa yang harus kami lakukan untuk bisa menjadi otentik? Pada paruh semester lalu, film kami ditahbiskan mayoritas kelas sinematografi sebagai film terbaik, bagaimana mempertahankan predikat itu?

Inspirasi tiada henti. Saat sedang menyimak editing salah satu film dokumenter anak muda, aku terinspirasi untuk membuat dokudrama. Mudah saja, cukup menyelipkan tokoh dokudrama di bagian awal dan akhir, dialah yang akan bertanya-tanya mengenai paradoks persepsi masyarakat tentang wartawan.

Ewi, sobatku, terpilih jadi tokoh itu. Sudah seharusnya dia, dia punya semangat besar untuk menjadi wartawan, itu sesuai dengan propaganda kami.

Sekarang, saatnya mengambil gambar Adnan. Kami akan bertemu di Warkop Dg Anas. Sekali lagi, saat kami turun dari mobil, mereka memantau kami seakan-akan kami makhluk asing. Apalagi tak sesuai bayangan, rupanya Adnan belum memutuskan akan membantu kami atau tidak. Di saat-saat kritis itu, tiba-tiba semua wartawan yang semeja dengan Adnan membujuk Adnan untuk membantu kami.

Dengan intimidasi seperti itu –hehehe- jadilah Adnan tokoh utama kami. Rupanya para wartawan ini tidak sedang melihat kami sebagai alien, tetapi sedang bertanya-tanya apa yang bisa mereka bantu.

Selanjutnya, Pak Nur Korompot! Kami baru tiba di kantor Bisnis Indonesia menjelang petang, setelah makan di food court, kami buru-buru turun untuk mengambil gambar sebelum malam. Dan semua berjalan sesuai harapan.

Proses editing adalah yang paling menggunakan kerja otak dalam hal ini. Bukan otot yang letih, tetapi lelah otak!

Setelah banyak debat kusir, saling mempertahankan ide, gangguan teknis, kesepakatan setengah hati, ketersinggungan, kemarahan, dan lain-lain yang membuat perasaan tidak enak, akhirnya film itu jadi juga.

Bisa dibilang film kami memakan waktu riset paling panjang. Tetapi kami telah sukses membuktikan hipotesis kami. Awalnya kami merumuskan bahwa memang ada perbedaan persepsi tentang wartawan di masyarakat, bahwa wartawan itu sejahtera, sederhana, atau bahkan melarat. Sementara fakta membuktikan bahwa ini bukan persoalan paradoks, tetapi proses.

Kami mendapati bahwa kebanyakan wartawan sejahtera juga pernah menjadi wartawan menengah ke bawah. Buktinya, wartawan berada dalam status sejahtera, setelah lama mengemban karirnya. Sebaliknya, kami menemukan wartawan dengan kondisi ekonomi yang tidak memadai adalah mereka yang baru memulai.

Jadi, paradoks itu bukanlah dua atau beberapa variabel hitam putih. Semuanya ternyata merupakan satu proses.

Film ini bisa masuk rekor, take gambar penting dilakukan sehari sebelum submit tugas. ^^:

Friday, December 4, 2009

Leadership


Dalam suatu organisasi, baik itu organisasi besar maupun organisasi kecil, formal maupun informal, kita selalu bisa menemui seorang pimpinan dan orang-orang yang dipimpin. Ini semua tidak lepas karena suatu kelompok selalu membutuhkan arahan dari seorang representasi. Orang inilah yang kemudian dikenal sebagai pemimpin, dan diharapkan bisa membantu kelompok menuju tujuan yang ingin dicapainya. Pemimpin dan kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Kepemimpinan memegang peran yang penting. Bahkan segala sesuatu akan bangkit dan jatuh karena kepemimpinan. Pemimpin adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan tercapai tujuannya jika ada pemimpin.

Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara).


A. DEFENISI PEMIMPIN & KEPEMIMPINAN

The Oxford English Dictionary (1933) mencatat kata-kata pemimpin dalam bahasa inggris (lead) muncul pada tahun 1300, meskipun begitu kata kepemimpinan sendiri baru muncul pada tahun 1800. Sebagaimana yang tercatat dalam tulisan hasil penelitian Thomas Carlyle dan Francis Galton. Carlyle dalam karyanya Heroes and Hero Worship (1841) menemukan fakta tentang karakteristik psikis, kemampuan dan bakat seseorang yang dibesarkan dengan kekuasaan. Sedangkan Galton menguji kualitas kepemimpinan seseorang yang berkuasa di dalam keluarganya, dan menulis karyanya Hereditary Genius pada tahun 1869 .

Terlepas dari
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article-- fakta sejarah, defenisi kepemimpinan pada dasarnya lebih merupakan konsep yang berdasarkan pengalaman. Adanya raja, kaisar, kepala suku atau apapun namanya, ketika fungsinya untuk memimpin, maka ia adalah pemimpin.

Banyak defenisi yang berbeda tentang kepemimpinan, di antaranya adalah yang dikemukakan Mumford: “Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial.”

Bernard menyimpulkan bahwa pemimpin dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutihan dan harapan-harapan para anggota kelompoknya. Pada gilirannya, ia memusatkan perhatian dan pelepasan energi anggota kelompok ke arah yang sang pemimpin inginkan.

Sedangkan kepemimpinan, ada beberapa definisi kepemimpinan yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan dihubungkan dengan proses mempengaruhi orang baik individu maupun masyarakat. Dalam kasus ini, dengan sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam susunan aktivitasnya dan hubungan dalam kelompok atau organisasi. John C. Maxwell mengatakan bahwa inti kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut. Berikut defenisi kepemimpinan menurut beberapa theorist:

Alan Keith of Genentech states that, "Leadership is ultimately about creating a way for people to contribute to making something extraordinary happen."

Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).

Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin p
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--elaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).

Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).

Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).

Munson mendefenisikan kepemimpinan sebagai kemampuan mengatasi orang lain untuk memperoleh hasil maksimal dengan sedikit friksi dan banyak kerjasama. Kepemimpinan adalah kekuatan semangat atau moral yang kreatif dan terarah. Stuart mendefenisikan kepemimpinan sebagai kemampuan yang memberi kesan tentang keinginan pemimpin, sehingga timbul rasa patuh, hormat, loyal, dan kerjasama yang baik. Sedang Bennis mendefenisikan kepemimpinan sebagai proses seseorang mempengaruhi orang lain agar bertindak sesuai keinginannya.

Beberapa ahli teori terdahulu menggunakan konsep pemimpin sebagai faktor yang menentukan dalam hubungan dengan pengikut, atau lebih jelasnya, bukan untuk koersi pengikut, namun untuk melakukan persuasi dengan pengikut.

Schenk menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pengelolaan manusia melalui persuasi dan isnpirasi daripada melalui pemaksaan. Hal ini melibatkan penerapan pengetahuan mengenai faktor manusia dalam memecahkan masalah yang
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--konkrit.

Cleaton dan Mason menyebutkan kepemimpinan mengidentifikasi adanya kemampuan mempengaruhi manusia dan menghasilkan rasa aman melalui pendekatan secara emosional daripada melalui pendekatan otoriter.

Copeland berpendapat bahwa kepemimpinan adalah seni berhubungan dengan orang lain dan juga seni mempengaruhi orang melalui persuasi dengan contoh yang konkrit. Dalam hal ini harus dihindari adanya intimidasi untuk memaksa orang lain bertingkahlaku sesuai kehendaknya.

Sementara Koonts dann G’donnell memandang kepemimpinan sebagai aktivitas membujuk manusia untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

B. TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN

Klasifikasi tipe kepemimpinan menurut White dan Lippit (1960) terdiri dari tiga: Autocratic, Participative atau Democratic, dan Laissez-Faire.

Autocratic Leadership atau kepemimpinan otoriter secara sederhana adalah all decision-making powers are centralized in the leader, semua kebijakan berada di tangan pemimpin. Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa kepemimpinan jenis otoriter bisa menimbulkan permusuhan,
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--agresi, dan perilaku submisif. Namun, studi selanjutnya menunjukkan bahwa kesimpulan ini tak selalu berlaku, dalam kelompok tertentu –militer misalnya-, kepemimpinan otoriter-lah yang paling proporsional dan efektif.

Kurt Lewin juga pernah merumuskan tipe kepemimpinan yang berbeda, dengan menambahkan tipe dictator, meski pada dasarnya baik dictator leadership maupun autocratic leadership adalah kepemimpinan yang menekankan pada sentralisasi keputusan.

Pemimpin yang cukup terkenal dengan gaya kepemimpinan otoriter adalah kopral angkatan perang Jerman, sang rasialis anggota NAZI, Adolf Hitler.

Participative Leadership dipahami the decisions of the democratic leader are not unilateral as with the autocrat
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--because they arise from consultation with the group members and participation by them. Atau dengan kata lain, kepemimpinan demokratis menampilkan pemimpin yang mendorong dan membantu anggota kelompok untuk memutuskan dan membicarakan semua kebijakan. Kepemimpinan tipe ini terbukti paling efisien dan menghasilkan kualitas kerja yang lebih tinggi.

Terakhir ialah kepemimpinan laissez-faire, yaitu tipe yang mengusung prinsip leaves the group entirely to itself. Kepemimpinan yang memberi kebebasan penuh bagi kelompok untuk mengambil keputusan individual dengan partisipasi pemimpin yang minimal. Gaya laissez-faire tidak berdasar pada aturan-aturan. Seorang pemimpin laissez-faire menginginkan anggota kelompoknya berpartisipasi tanpa memaksakan kewenangan yang ia miliki.

Kepemimpinan laissez-faire memiliki kelebihan dalam penyaluran informasi. Namun, tipe kepemimpinan ini akan menjerumuskan kelompok menjadi tidak terorganisasi, tidak produktif dan apatis.

Di samping jenis-jenis kepemimpinan di atas, yang dikemukakan oleh White dan Lippit, terdapat juga tipe atau gaya kepemimpinan yang lain seperti: gaya birokratik dan diplomatik.

Gaya birokratik mengacu pada kepemimpinan yang bertindak sebagai pengawas ayau supervisor dalam mengkoordinasikan aktivitas kelompok. Pedoman dari gaya kepemimpinan ini adalah ‘organisasi’, bukan diri seorang pemimpin seperti yang ada dalam gaya autocratic leadership, Seorang pemimpin birokratik memandang hubungan sosial sebagai hal yang tidak dikehendaki, kerananya ia lebih suka menjauhkan dan tidak memperhatikan persoalan-persoalan antarpribadi anggotanya. Pemimpin birokratik cenderung berkomunikasi melalui seluran tertulis secara resmi.

Kepemimpinan diplomatic adalah kepemimpinan manupulasi, ia melaksanakan kepemimpinannya supaya menjadi pusat perhatian para anggota kelompoknya. Pemimpin yang diplomatis lebih halus menggunakan kontrol dibanting autocratic leadership. Ia tidak terpaku oleh aturan khuss, karenanya lebih bebas menggunakan strategi secara terbuka dengan adanya saran dan umpan balik yang domokratis dari anggota kelompoknya.

C. TUGAS DAN PERAN PEMIMPIN

Menurut James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin adalah:

1. Pemimpin bekerja dengan orang lain.
Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organisasi sebaik orang diluar organisasi.

2. Pemimpin adalah tanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (akontabilitas).
Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk kesuksesan stafnya tanpa kegagalan.

3. Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas
Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin harus dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas-tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif.

4. Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual
Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain.

5. Manajer adalah seorang mediator
Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah).

6. Pemimpin adalah politisi dan diplomat
Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili tim atau organisasinya.

7. Pemimpin membuat keputusan yang sulit
Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah.

Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah :

1. Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.

2. Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.

3. Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator.

D. PRINSIP-PRINSIP DASAR KEPEMIMPINAN

Prinsip, sebagai paradigma terdiri dari beberapa ide utama berdasarkan motivasi pribadi dan sikap serta mempunyai pengaruh yang kuat untuk membangun dirinya atau organisasi. Menurut Stephen R. Covey (1997), prinsip adalah bagian dari suatu kondisi, realisasi dan konsekuensi. Mungkin prinsip menciptakan kepercayaan dan berjalan sebagai sebuah kompas/petunjuk yang tidak dapat dirubah. Prinsip merupakan suatu pusat atau sumber utama sistem pendukung kehidupan yang ditampilkan dengan empat dimensi seperti; keselamatan, bimbingan, sikap yang bijaksana, dan kekuatan. Karakteristik seorang pemimpin didasarkan kepada prinsip-prinsip (Stephen R. Covey) sebagai berikut:

1. Seorang yang belajar seumur hidup
Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya, belajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.

2. Berorientasi pada pelayanan
Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpin dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang baik.

3. Membawa energi yang positif
Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik. Seorang pemimpin harus dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu yang lama dan kondisi tidak ditentukan.

E. FUNGSI KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan komunikaif secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok. Pemimpin dapat ditunjuk atau muncul
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article-- setelah terjadi proses komunikasi kelompok. Perlu ditekankan bahwa kepemimpinan sering disebut sebagai faktor yang paling menentukan efektivitas komunikasi kelompok.

Fungsi dasar kepemimpinan dibagi ke dalam dua:

1. Fungsi pemeliharaan kelompok

2. Fungsi pencapaian kelompok

Kedua fungsi ini telah diperinci oleh Baird dan Weinberg, fungsi pemeliharaan kelompok meliputi kegiatan kepemimpinan seperti: mendorong motivasi, mengatur interaksi, mendorong pemuasan kebutuhan, mendorong kerja sama, menengahi konflik, melindungi hak-hak individual, memberi contoh tingkah laku, mengambil tanggung jawab unruk kesalahan kelompok, mendorong pengembangan kelompok.

Fungsi pencapaian kelompok meliputi tugas-tugas pemimpin untuk: menginformasikan, merencanakan, mengorientasikan, menyatukan, mewakili, mengkoordinasikan, menjelaskan, menilai, dan menstimulasi.

Lebih jauh lagi, Burgoon, Heston dan McCroskey menguraikan delapan fungsi kepemimpinan, yaitu:

1. Fungsi Inisisasi (Initiation)
Dalam fungsi inisiasi, seorang pemimpin perlu mengambil prakarsa untuk menciptakan gagasan-gagasan baru, namun sebalikanya tugas pemimpin memberi pengarahan atau menolak gagasan-gagasan dari anggota kelompok yang dinilai tidak layak. Sebab oemimpin mempunyai tanggung jawab yang lebih besar terhadap keberadaan atau eksistensi kelompok yang dipimpinnya.

2. Fungsi Keanggotaan (Membership)
Pimpinan memastikan bahwa dirinyua juga merupakan anggota kelompok. Prilaku ini dijalankannya dengan cara meleburkan diri ke dalam kelompok, serta melakukan aktivitas yang menekankan kepada interaksi informal dengan anggota kelompok lainnya.

3. Fungsi Perwakilan (Representation)
Ketika seorang pemimpin melindungi dan mempertahankan anggotanya dari
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--ancaman-ancaman luar, maka ia menjalankan fungsi perwakilan.

4. Fungsi Organisasi (Organization)
Tanggung jawab terhadap hal-hal yang bersangkut dengan persoalan organisasional seperti struktur organisasi, kelancaran organisasi, dan deksripsi kerja ada di tangan seorang pemimpin. Sehingga idealnya, seorang pemimpin harus lebih handal mengelola organisasi disbanding anggotanya.

5. Fungsi Intergasi (Integration)
Seorang pemimpin perlu mempunyai kemampuan untuk memecahkan ataupun mengelola dengan baik konflik yang muncul dalam kelompoknya. Dengan bekal ini, diharapkan pemimpin dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk tercapainya penyelesaian konflik yang memberikan ke[uasan kepada semua anggoata kelompok.

6. Fungsi Manajemen Informasi Internal (Internal Information Management)
Pimpinan harus memberikan sarana bagi berlangsungnya pertukaran informasi di antara para anggotanya, dan juga mencari masukan tentang bagaimana kelompoknya harus merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program kerjanya.

7. Fungsi Penyaring Informasi (Gatekeeping)
Seorang pemimpin bertindak sebagai penyaring sekaligus manager informasi yang masuk dan keluar dari kelompok yang dipimpinnya. Fungsi ini dilakukan sebagai usaha mengurangi terjadinya konflik dalam kelompok, maupun antarkelompok.

8. Fungsi Imbalan (Reward)
Pemimpin melakukan evaluasi dan menyatakan setuju atau tdiak terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh para anggotanya. Hal ini dilakukan melalui imbalan-imbalan material seperti peningkatan gaji, pemberian dan penaikan pangkat, pujian dan penghargaan.



DAFTAR PUSTAKA
NN. Komunikasi Kelompok. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Soejono, MA., Drs. Eddy, et. al. 2007. Human Relation. Makassar: Universitas Hasanuddin.
http://www.baldrigeindo.com/Kualitas_kepemimpinan.pdf
http://en.wikipedia.org/wiki/Leadership
http://www.kmpk.ugm.ac.id/data/SPMKK/5a-KEPEMIMPINAN(revDes'02).doc
www.polman-timah.ac.id/artikel/Rahasia%20Kepemimpinan.doc
http://grahailmu.co.id/preview/979-3289-61-9.pdf



Review: Seandainya Saya Wartawan Tempo


Majalah Tempo adalah majalah berita mingguan Indonesia yang umumnya meliput berita dan politik. Edisi pertama Tempo diterbitkan pada Maret 1971, dan Tempo kemudian dideklarasikan sebagai majalah pertama yang tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah.

Tempo adalah majalah berita pertama di Indonesia yang berbeda dengan media-media berita lainnya, ditinjau dari berbagai aspek, baik melalui cara penyajiannya, maupun proses produksinya. Baik manajemen personalianya, maupun manajemen keuangan dan pemasarannya.

Tempo sebagai majalah berita mingguan, seperti dikemukakan Goenawan Mohamad, adalah semacam pipa saluran: informasi mengalir masuk lewat pita rekaman wawancara, fotografi, hasil reportase di lapangan, hasil riset perpustakaan, data dan cerita dari pusat berita di luar negeri.

Majalah Tempo pernah dilarang terbit oleh pemerintah pada tahun 1982 dan 21 Juni 1994. Pelarangan terbit majalah Tempo pada 1994 tidak pernah jelas penyebabnya. Tapi banyak orang yakin bahwa Menteri Penerangan saat itu, Harmoko, mencabut Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) Tempo karena laporan majalah ini tentang impor kapal perang dari Jerman. Laporan ini dianggap membahayakan "stabilitas negara". Namun, majalah Tempo kembali beredar pada 6 Oktober 1998, bahkan Tempo juga menerbitkan majalah dalam bahasa Inggris sejak 12 September 2000 yang bernama Tempo Magazine, kemudian pada 2 April 2001 Tempo juga menerbitkan Koran Tempo.

Jelasnya, kehadiran Tempo menjadi gebrakan baru dalam penulisan berita. Di Indonesia, pasca-kemerdekaan dahulu, hanya dikenal dua jenis penulisan berita, yaitu; straight news, atau berita yang dipaparkan apa adanya mengikut 5 W+ 1 H; dan gaya penulisan artikel. Tempo hadir dengan metode baru, yaitu bagaimana menyusun sebuah berita tentang sebuah kejadian sebagai sebuah cerita pendek. Metode ini kemudian menjadi pola di penulisan jurnalistik Indonesia.

Buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo” ini menawarkan kepada pembacanya

bagaimana membuat satu tulisan selayaknya tulisan wartawan Tempo. Bagaimana meramu suatu tulisan seandainya pembaca adalah wartawan Tempo. Menariknya, buku ini tidak hanya dijejali dengan materi melulu, buku ini juga diselingi guyon sebagai intermezzo, baik itu tulisan maupun potret-potret wartawan Tempo dengan pose yang edan. Guyon atau gurauan ini, disebutkan Goenawan Mohammad, bisa meningkatkan kreativitas, membebaskan jiwa yang tertekan.

Inilah yang dikatakan Goenawan Mohammad sebagai gaya yang hendak dicapai Tempo. Serta merupakan dasar dari semboyan: Tempo mencoba menulis jujur, jelas, jernih, jenaka pun bisa.

A. PADA MULANYA FEATURE

Dalam buku ini digambarkan salah satu peristiwa yang menjadi proses penulisan feature, yaitu feature bertemakan kehidupan anak-anak jalanan. Feature menjadi cikal-bakal pengembangan metode khas penulisan majalah Tempo. Namun sebenarnya, apakah feature itu?

Pada dasarnya tidak ada defenisi yang dapat menjelaskan feature secara memuaskan dan utuh, namun terdapat batasan umum yang bisa dijadikan acuan dasar:

“Feature adalah artikel kreatif, kadang-kadang subjektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, dan aspek kehidupan.”

Unsur penting yang terkandung dalam satu tulisan feature antara lain: Kreativitas, kreativitas seorang penulis feature bisa diuji dari kemampuannya mengembangkan sebuah berita biasa, atau salah satu aspek berita biasa, menjadi tulisan yang “enak dibaca dan perlu”. Unsur lain adalah: Subjektivitas, beberapa feature ditulis dalam sudut pandang “aku”, atau wartawan sekaligus penulisnya sendiri. Hal ini memungkinkan wartawan melibatkan emosi dan pikirannya sendiri. Keterlibatan emosi inilah yang memberikan feature aspek “menyentuh” hati pembaca –yang jarang bisa dicapai dalam penyajian berita biasa. Keterlibatan emosi itu pula yang memberi kemungkinan pada feature untuk enak dibaca.

Unsur ketiga yaitu: Informatif, feature yang kurang nilai aktualitasnya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai aspek kehidupan, yang mungkin diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran.

Unsur keempat adalah: menghibur, feature memberikan variasi terhadap berita-berita rutin, seperti: pembunuhan, skandal, bencana, dan politik. Feature bisa membuat pembaca tertawa, terharu, bahkan tergugah semangat solidaritasnya.

Unsur kelima adalah awet: contoh sederhana yang bisa diberikan dalam buku ini ialah bagaimana koran biasa hanya berakhir menjadi pembungkus kacang, karena sifat berita yang mudah luluh dalam jangka waktu yang singkat, sebaliknya feature bisa disimpan berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Unsur terakhir ialah: panjang tulisan, panjang tulisan feature sangat bervariasi, dari dua atau tiga alinea sampai 15-20 halaman. Minat pembacalah yang jadi patokan. Seorang editor menjawab: “sepanjang Anda masih menganggapnya menarik.”

B. MODAL PENTING DALAM MENULIS

Dalam penulisan feature, wartawan bisa memakai teknik “mengisahkan sebuah cerita”, berbeda dengan penulisan berita, yang hanya mengutamakan pengaturan fakta. Penulis feature sesungguhnya adalah seorang yang berkisah; ia melukis dengan kata-kata; menghidupkan imajinasi pembaca; menarik minat pembaca ke dalam cerita; membantu pembaca mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

Beberapa modal penting untuk mencapai penulisan bagaikan bercerita, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, antara lain: akurat, mengumpulkan informasi dengan tepat, pengejaan kata dan pemakaian kata, pemakaian buku pedoman, dan menangkap kesalahan.

Keakuratan merupakan mahkota profesi. Sekalipun feature membutuhkan imajinasi untuk menyusun sebuah cerita yang baik, tetapi imajinasi tersebut tidak boleh mewarnai fakta dalam ceritanya. Seorang wartawan professional, tidak akan menipu pembacanya, walau sedikit. Untuk kepentingannya sendiri, seorang wartawan harus tahu bahwa nama baiknya merupakan taruhan perjalanan kariernya. Wartawan yang roboh terhadap fakta akan segera kehabisan sumber berita yang bisa memberi informasi kepadanya.

Menyusul modal pertama, mengumpulkan informasi dengan tepat merupakan satu kewajiban bagi penulis. Ketidakakuratan dalam penerbitan kebanyakan disebabkan oleh kelalaian yang tidak disengaja, seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengcek informasi sebelum menulis. Kemudian ternyata ia salah menulis nama sumber berita. Jangan sekali-kali menganggap Anda mengetahui semuanya. Anda harus mengecek ulang setiap informasi penting.

Pengejaan dan Pemakaian Kata adalah modal yang tidak kalah pentingnya, karena “kata-kata adalah alat pokok pekerjaan ini…”. Kesalahan pemilihan dan ejaan kata bisa berakibat fatal. Nama baik surat kabar merosot, demikian pula dengan nama reporter.

Pemakaian Buku Pedoman dilaksanakan untuk mempertahankan professionalisme.
Menangkap Kesalahan di sini dimaksudkan dalam konteks kesalahan ejaan, gaya, maupun pemakaian kata. Cara yang bisa dilaksanakan adalah membaca dan membaca naskah. Tetapi berilah tenggang waktu antara penulisan dan pembacaan ulang naskah, sehingga tercipta jarak antara Anda dan tulisan Anda, sehingga Anda bisa memposisikan diri Anda sebagai pembaca.

C. MENGAIL, DENGAN LEAD

Lead atau teras suatu tulisan mampu memaparkan keseluruhan isi tulisan seseorang. Lead mempunyai dua tujuan utama: menarik pembaca untuk mengikuti cerita, dan membuka jalan bagi alur cerita.

Ada banyak jenis lead yang bisa digunakan untuk memulai tulisan, antara lain: lead ringkasan (summary lead) atau lead yang banyak digunakan dalam penulisan berita keras. Yang ditulis adalah inti ceritanya, lalu diserahkan pada pembaca, apakah cukup tertarik untuk membaca kelanjutannya.

Lead bercerita (narrative lead) yaitu lead yang banyak digemari penulis fiksi untuk menarik pembaca dan membenamkannya. Tekniknya ialah menciptakan suasana dan membiarkan pembaca menjadi tokoh utama.

Lead deskriptif (descriptive lead) adalah lead yang menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang satu tokoh atau tempat kejadian. Lead ini sesuai untuk reporter yang hendak menulis profil pribadi.

Lead kutipan (quotation lead) merupakan lead berbadan kutipan, utamanya kutipan dari seseorang yang terkenal. Kutipan ini bisa menarik perhatian pembaca, dan secara tidak langsung berkaitan dengan watak subjek cerita.

Lead bertanya (question lead) ialah lead yang bisa menjadi efektif bila berhasil menantang pengetahuan atau rasa ingin tahu pembaca.

Lead menuding langsung (direct address lead) di mana reporter berkomunikasi langsung dengan pembaca, ciri-ciri lead ini yaitu ditemukannya kata ganti orang kedua.
Lead menggoda (teaser lead) yang digunakan untuk “mengelabui” pembaca dengan cara bergurau. Tujuan utamanya yaitu menggaet perhatian pembaca dan menuntunnya supaya membaca seluruh cerita.

Lead nyentrik (freak lead) adalah lead yang cenderung aneh, khas, dan tak kenal kompromi. Lead ini paling ekstrem dalam bertingkah, tetapi kekurangajarannya bisa menggaet pembaca.

Lead kombinasi (combination lead) lead yang merupakan kombinasi dari dua atau tiga leas, dengan mengambil unsur-unsur terbaik dari satu lead.

D. TUBUH DAN EKOR

Setelah membangun kepala feature dengan lead, selanjutnya adalah bagaimana memformulasi tubuh dan ekornya. Ada satu model tubuh dan ekor feature yang banyak digunakan jurnalis, yaitu model piramida terbalik –semakin ke bawah, semakin tidak penting, lebih banyak detail.

Keuntungan piramida terbalik ini antara lain: memungkinkan editor memotong naskah dari bawah; dan memungkinkan kecepatan mengetahui. Namun bagaimanapun, piramida terbalik tetap membutuhkan adanya ending feature.

Beberapa jenis ending atau penutup: penutup ringkasan yang berisi ikhtisar, menunjuk kembali ke lead; penyengat yang mengagetkan pembaca; klimaks yang ditemukan pada cerita yang ditulis secara kronologis.

E. TEKNIK PENULISAN

Ada tiga pokok teknik penulisan, guna menjaga agar semuanya berada pada tempatnya: (1) spiral, setiap alinea menguraikan lebih rinci persoalan yang disebutkan pada alinea sebelumnya. (2) blok, bahan cerita disajikan dalam alinea-alinea yang terpisah, secara lengkap. (3) mengikuti tema, setiap alinea menggarisbawahi atau menegaskan leadnya.

Dalam menulis, beberapa petunjuk dasar digunakan untuk menyajikan tulisan dalam cara yang paling menarik supaya menawan pembaca: alinea pendek, dan tulisan singkat serta sederhana.

F. SIAPKAN EMPAT SENJATA

Empat senjata yang biasa digunakan wartawan professional untuk menaklukkan pembaca yaitu: focus, deskripsi, anekdot, dan kutipan.

Fokus adalah langkah penentu. Dengan pokok cerita yang cakupannya lebih sempit, dan tidak begitu melebar, fokus dapat dipasang dengan tepat. Dalam menulis cerita. Setiap potong informasi harus menyentuh fokus itu.

Fokus sangat dirasa perlu dalam cerita-cerita yang panjang. Bila seseorang mengerjakan in-depth reporting yang panjang, besar sekali kemungkunan terdapatnya materi yang sesungguhnya tidak relevan. Untuk meringkas perlunya fokus, wartawan harus: cermat memilih angle cerita, dan memegang teguh angle tersebut.

Deskripsi juga adalah senjata wartawan professional, oleh karena dalam penulisan feature, kita tidak dapat hanya memberian gambaran satu dimensi. Penulisan feature deskriptif yang baik merupakan gabungan beberapa percakapan; pengempulan berita reportase; kemampuan observasi tinggi; pengetahuan tentang manusia sesuai dengan pengalaman reportase; dan kemampuan meramu kata-kata secara ringkas dan efektif.
Anekdot bisa berperan sebagai “cerita dalam cerita”. Mengumpulkan anekdot mungkin lebih sulit daripada yang kita duga, selain itu memilih anekdot memerlukan kecerdasan ekstra. Anekdot harus mampu menggambarkan watak subjek feature kita. Maka tak heran bila banyak reporter menganggap anekdot sebagai “permata”, dan menaburkan “permata” itu di semua bagian cerita.

Kutipan langsung merupakan salah satu alat penulisan yangpaling efektif. Pemakaian kutipan –baik dialog maupun monolog- memberikan selingan dan variasi ke dalam cerita, serta menawarkan wawasan tentang si tokoh. Gaya kutipan yang sesuai dengan isi cerita akan membuat pembaca seakan-akan “mendengar” sendiri ucapan yang tercantum dalam kutipan itu.

G. MENCARI IDE, MENCARI SEGI

Dengan sedikit imajinasi, sebenarnya tidaklah sulit mencari ide untuk menulis feature. Bukalah mata ke berbagai hal menarik di sekeliling kita, dan rupanya bahan tulisan itu tidak ada habisnya.

Dan sekarang, setelah kita menggenggam ide cerita, tugas kita berikutnya adalah menentukan dari segi atau sudut mana yang paling efektif untuk melakukan penulisan, atau biasa disebut story angle (segi cerita).

Angle di sini berperan sangat kuat, banyak pembaca akan membaca seluruh isi cerita begitu ia merasa terpikat oleh segi yang kita angkat. Dan untuk menambah bekal mencari segi, ada dua cara yang bisa dilakukan: (1) pakailah imajinasi dan kekuatan pengamatan yang terlatih, untuk melihat hal-hal menarik yang luput dari perhatian orang lain. (2) perhatikan orang yang mempunyai pandangan berbeda atau unik dalam mengamati satu persoalan.

H. YANG “BERITA” DAN YANG BUKAN

Feature berita adalah feature yang terpengaruh waktu, yang berhubungan dengan peristiwa hangat (actual) yang menarik perhatian masyarakat. Feature Human Interest tidak memiliki aktualitas yang ketat, feature ini tidak lekang oleh dimensi waktu, bukan menyajikan kepentingan umum yang vital. Feature ini hanya mengimbau kuriositas pembaca tentang sesamanya, atau soal-soal yang jadi perhatian bersama, atau ironi sejarah.

I. PROFIL PRIBADI

Profil pribadi adalah cerita mendalam tentang seseorang, sebuah cerita yang mampu menangkap inti kepribadiannya. Profil pribadi adalah seni jurnalistik yang memaparkan seorang manusia dalam bentuk tulisan di atas kertas.

Hambatan yang wartawan hadapi dalam menyusun suatu profil pribadi yaitu subjek wartawan merupakan manusia yang benar-benar ada, bisa marah apabila wartawan salah menulis. Wartawan harus menangkap perwatakan dalam ruangan yang terbatas, ia tidak boleh lama-lama mengembangkan segi-segi yang menarik, karena pembaca adalah makhluk yang tidak sabaran, yang akan pindah ke artikel lain bila tulisan yang dibacanya tidak berjalan cepat. Wartawan tidak bisa berpanjang-panjang mempersiapkan pentas untuk tokoh yang ia tulis. Dan wartawan harus segera terjun ke dalam sang tokoh, menggaet minat pembaca dengan penekanan pada bagian yang menarik dari subjeknya.

Sebelum menemukan kata pertamanya, reporter mungkin menghabiskan berpekan-pekan riset, mengamati subjek dari berbagai sisi, berbicara dengan kawan-kawan, dan musuh-musuhnya.

Seorang wartawan harus waspada terhadap sejumlah cirri: (1) deskripsi tentang fisik: raut muka, warna kulit, jenis rambut, ukuran tubuh, pakaian, tabiat, suara, dan sebagainya. (2) penilaian terhadap kecerdasan dan kecakapannya: bagaimana kawan dan lawan menilai kemampuan professionalnya, bagaimana dia di luar dunia profesinya, ingatannya, dan lain-lain. (3) latar belakang subjek: kelahiran, tempat tinggal, pendidikan, gelar, suami/istri, pengalaman semasa kanak-kanak, dan sebagainya.

J. INGIN SELAMAT? BIKINLAH “OUTLINE”

Untuk menghindari kesalahan, seorang penulis membutuhkan outline, atau sebuah kerangka cerita sebelum ia mulai bekerja. Outline sering disepelekan, seorang penulis kadang salah mengartikannya, atau tidak dapat membuat outline, akibatnya, penulis terjebak pada situasi melantur –tidak fokus. Akibat lainnya adalah: kacaunya cerita.

Outline sendiri berfungsi sebagai pengorganisasian langkah-langkah menjelang berangkat menulis, yang harus kita lakukan adalah menguasai bahan. Kita harus mempunyai gambaran terlebih dahulu –yang cukup gamblang- mengenai bentuk keseluruhan cerita panjang yang akan kita susun. Kita harus punya disiplin untuk tidak melantur dari angle atau fokus. Kemudian urut peristiwa atau informasi untuk membangun cerita, entah itu dengan urutan kronologis, maupun urutan ruang.

Beberapa laporan utama Tempo juga menggunakan urutan logis, dari satu alinea ke alinea yang lain. Urutan logis ini dibagi menjadi: urutan sebab-akibat, urutan akibat-sebab, urutan khusus-umum, urutan umum-khusus, dan urutan pemecahan masalah.

Dengan outline tadi, kita dapat memikirkan lebih dulu perlu tidaknya sebuah cerita diletakkan khusus ke dalam Boks. Boks dalam tradisi Tempo, berfungsi memberi tempat bagi cerita-cerita yang punya hubungan dengan pokok cerita, tetapi akan mengganggu arus cerita bila diletakkan di batang tubuh tulisan. Boks juga sering jadi tempat kita menyoroti secara istimewa hal yang bisa jadi contoh menarik tentang satu masalah. []

Tulisan Ini adalah review buku berjudul "Seandainya Saya Wartawan Tempo". Hargailah sumber dengan mencantumkannya.

Kunjungan Media Tribun Timur


Pada hari Selasa 17 November 2009, kelas Jurnalistik Media Cetak berhasil menembus Tribun Timur untuk melakukan kunjungan media. Kunjungan media ini sebagaimana yang disebutkan Dosen MK Jurnalistik Media Cetak, Pak Hasrullah, bertujuan untuk memberi pengalaman empiris pada mahasiswa tentang proses berita dalam media cetak. Bagaimana berita tersebut diolah oleh kuli-kuli tinta, hingga tiba di tangan pembaca dalam bentuk koran.
Sebenarnya, kunjungan media direncanakan berlangsung hari Senin, sesuai dengan jadwal mata kuliah, tetapi

karena koordinasi yang belum matang, rencana ditunda hingga Selasa pukul sepuluh pagi. Tribun Timur menjadi pilihan karena Tribun Timur merupakan salah satu media cetak yang baru berkembang dan sukses di Indonesia Timur. Selain itu, Tribun Timur menyediakan kolom khusus untuk mahasiswa setiap hari Sabtu, yang sering menjadi kolom kompetisi bagi para peserta kelas Jurnalistik Media Cetak.

Melalui layanan pesan singkat, informasi disebar ketua kelas untuk peserta kelas agar berkumpul di jurusan pukul sembilan pagi. Ketua kelas juga mengirimkan pesan tambahan pada saya, meminta tolong untuk menyediakan plakat penghargaan untuk Tribun Timur. Saya menyanggupi hal ini.

Meski saya datang tepat waktu pada hari kunjungan media, urusan plakat membuat saya terhambat. Masalahnya, plakat itu seharusnya ditandatangani oleh ketua jurusan, tetapi sampai pukul sembilan lewat, beliau belum datang juga. Saya akhirnya mencetak ulang plakat tanpa nama ketua jurusan sebagai pihak yang mengetahui.

Walhasil, saya tiba cukup telat di kantor redaksi Tribun Timur. Saya tiba bertepatan dengan sesi tanya jawab. Saya melihat ruangan rapat berukuran sekitar enam kali empat meter itu telah dipadati oleh teman-teman kelas Jurnalistik Media Cetak. Pihak Tribun Timur yang hari itu mendampingi kami, Pak Rusdi, sampai harus repot mengangkat kursi ekstra untuk kami yang datang terlambat. Tetapi ungkapan ‘lebih baik sedikit dari pada tidak sama sekali’ ada benarnya juga, toh melalui sesi Tanya jawab yang cukup singkat, saya juga bisa memperoleh tambahan pengetahuan dari Pak Rusdi yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik.

Beliau menjawab pertanyaan teman-teman semisal: apakah Tribun Timur tidak menerima pegawai magang? Bagaimana dinamika media cetak saat media online sedang berkembang pesat? Serta bagaimana verifikasi Tribun Timur?

Pak Rusdi memaparkan bahwa Tribun Timur tidak menerima pegawai magang karena sangat menjunjung tinggi aspek kepercayaan. Orang yang bisa dipercayai sebagai ‘orang dalam’ adalah orang-orang yang telah lama membangun dan bertahan bersama Tribun Timur, dan pegawai magang bisa disebut ‘orang dalam’ temporer, tidak ada jaminan suatu saat pegawai magang tersebut berkiblat ke media cetak lain, karena itu proses perekrutan Tribun Timur tergolong berat. Tribun Timur harus tebang pilih untuk mendapatkan orang yang benar-benar dapat dipercayai dan memiliki integritas. Bayangkan saja, sehalaman Tribun Timur merupakan tanggung jawab satu orang reporter. Tetapi, tambah Pak Rusdi, beliau menerima lamaran magang untuk ruang lingkup administrasi.

Menurut Pak Rusdi, media online dan media cetak tidak sertamerta menjadi media yang kontradiktif. Adanya media online belum menggeser signifikansi media cetak, oplah penjualan Tribun Timur tetap normal sekalipun media online merajalela. Kalaupun suatu saat masyarakat beralih ke media online, Tribun sudah membuat media online sendiri, dan masyarakat bisa mengakses berita yang diupdate tiap dini hari.

Untuk verifikasi, Tribun Timur mengaku senantiasa mempertahankannya. Pak Rusdi sendiri selalu melakukan editing dan membuka pintu untuk ralat dari pembaca. Beliau mengatakan, reporter Tribun Timur pasti melakukan kroscek berita, jika informasi dirasa salah, kadang itu karena sumber informasi sendiri kurang spesifik dalam memberikan informasi.

Pak Rusdi sempat bercerita bagaimana kolom opini untuk mahasiswa di Tribun Timur akhirnya bisa terwujud. Kolom opini tersebut pada masa-masa awalnya dulu, sungguh sepi dari penulis (mahasiswa), tetapi Pak Rusdi mengaku dibantu oleh salah seorang mahasiswa UNM yang sering menulis. Dewasa ini, untuk menembus kolom opini khusus mahasiswa tersebut, harus melalui persaingan dengan penulis-penulis lainnya. Pak Rusdi mengatakan, beliau sedang memperjuangkan terbitnya dua opini dalam satu halaman. Meski demikian, untuk terpenuhinya hal ini, pihak bisnis berarti harus mengeluarkan dana tambahan karena menutup kolom iklan. Ya, dinamika media cetak.

Beliau menutup diskusi itu dengan memotivasi kami untuk tetap mengirim tulisan ke Tribun Timur, dan selalu meminta bantuan dosen kami, Pak Hasrullah. Pak Hasrullah lalu menyerahkan satu plakat dalam frame plastic jernih yang telah beliau tanda tangani, kepada Pak Rusdi.

Agenda berikutnya adalah kunjungan lapangan. Pak Rusdi menggiring kami keluar dari ruang rapat menuju ruang redaksi dan reporter. Ruangan itu cukup luas, ada dua lingkaran meja yang berjejal komputer-komputer berumur. Pak Rusdi menjelaskan, lingkaran meja di sisi kanan adalah lingkaran reporter, dan lingkaran di sisi kiri adalah redaktur –termasuk fotografer.
Pak Rusdi memperlihatkan proses listing berita, komputer yang letaknya di sudut paling kiri adalah komputer khusus listing atau pengurutan berita. Komputer itu juga beliau gunakan untuk absensi reporter dan redaktur. Selanjutnya, beliau menggiring kami menuju komputer line SMS Tribun Timur, baik itu PSM Mania, sampai line sms yang sifatnya aksidental. Beliau menunjuk satu ruangan khusus editor grafis Tribun Timur, dan beralih pada sebaris komputer di sisi kiri yang digunakan oleh para fotografer Tribun Timur.

Setelah itu, beliau menunjukkan ruangan khusus tempat pracetak Tribun Timur, di mana lempengan-lempengan Tribun Timur dicetak sebelum diprint dalam bentuk kertas A3. Setelah itu, barulan koran masuk cetak.

Ruang percetakan terletak di belakang ruang redaksi, tempatnya serupa gudang dengan sebuah mesin cetak berat setinggi kurang lebih delapan meter. Di sanalah Tribun Timur diproses menjadi koran yang utuh, dengan menghabiskan kurang lebih dua belas gulung kertas berdiameter satu meter, setiap harinya. Dan setiap hari pula, ada ribuan eksampelar koran yang dinyatakan rusak, koran ini dialihkan pada para pengolah kertas daur ulang.

Pak Rusdi mengantarkan kami keluar dari percetakan, dan kami amat sangat berterima kasih atas kesempatan kunjungan media ini. Ini merupakan salah satu pengalaman yang berharga untuk kami.


Monday, October 12, 2009

Krisis Listrik Makassar

Krisis listrik yang belakangan ini dialami Makassar, tak ayal menuai protes dari berbagai elemen masyarakat. Semua pihak merasa dirugikan atas pemadaman bergilir ini, apalagi sejak frekuensinya semakin bertambah, dua hingga tiga kali sehari.

PLN Sulawesi Selatan , Barat, dan Tenggara (Sultanbatara) harus menerima berbagai kontra. Betapa tidak, pemadaman bergilir terjadi setiap tahun, sehingga PLN Sultanbatara terkesan tidak siap dan tidak serius menanggulangi krisis listrik ini. General Manager PT PLN Wilayah Sultanbatara, Haryanto WS, bahkan didesak turun dari jabatannya setelah disinyalir diskriminatif dalam pemasokan listrik, cenderung mengutamakan pengusaha daripada warga kota Makassar sendiri. Tudingan ini tentu berhubungan dengan kehadiran Trans Studio Makassar.

Dari persepsi awam, pemadaman listrik memang mulai berlangsung sejak Trans Studio beroperasi. Sarana hiburan indoor seluas 24 hektar itu dipastikan menyedot sekian banyak megawatt dari pasokan listrik kota Makassar.

Namun nyatanya, penyebab krisis listrik ini tidak ada kaitannya dengan Trans Studio. Deputi Manajer Komunikasi PLN Wilayah Sultanbatara, Muhammad Yamin Loleh, mengemukakan bahwa Trans Studio menyerap jasa 3 magawatt dari PLN, dari permintaannya sebesar 12 megawatt.

Pada dasarnya, krisis listrik yang dialami daerah Sultanbatara adalah imbas dari kemarau berkepanjangan. Sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) mengalami penurunan pasokan yang sangat drastis, oleh karena defisit air di bawah batas normal. Sebutlah PLTA Bakaru di Kabupaten Pinrang yang mengalami penurunan daya menjadi 70 megawatt dari daya 129 megawatt. Demikian pula dengan PLTA Bili-Bili Kapubaten Gowa yang hanya mampu memberi porsi 2 megawatt dari total 20 megawatt. PLN hanya berharap musim penghujan segera tiba, sehingga volume air pembangkit listrik kembali normal.

Di samping itu, PLN kini berupaya menanggulangi krisis dengan menambah 70 megawatt dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tello. Nantinya, daya dari PLTU Tello ini akan ditambah lagi hingga 200 megawatt. Pembangkit listrik di poso akan menyumbang 100 megawatt, dan PLTG Sengkang sebesar 38 megawatt.

Langkah PT PLN ini memang tepat, karena dengan dalih musim kemarau, bisa dipastikan setiap tahun wilayah Sultanbatara akan mengalami krisis listrik. Ibaratnya, jatuh di lubang yang sama. Apalagi Makassar sedang berkembang menuju kota metropolitan, semakin banyak daya listrik dibutuhkan.

*dari berbagai sumber



Saturday, November 1, 2008

Komunikasi Sebagai Proses

Untuk berada pada era revolusi ini, sistem komunikasi telah melalui tahapan-tahapan yang tidak praktis. Berbagai perkembangan komunikasi tersebut sebenarnya merupakan proses yang diperbaharui hari demi hari, setiap revolusi komunikasi berbeda rentang waktunya, membutuhkan berabad-abad sehingga sistem mengalami kemajuan satu tahap. Sebut saja dulu, sistem komunikasi yang dilakukan lewat pelayanan pos (Curtus Publicus) yang terjadi di kota Roma, kemudian berkembang menjadi lebih maju dengan ditemukannya telegraf satu abad kemudian, serta menyusul penemuan-penemuan lainnya hingga akhirnya era revolusi ini Marshall McLuhan mengemukakan bahwa kita saat ini telah memasuki Global Village (Wassworth, Canada, 2000) atau kampung global. Sama halnya dengan yang terjadi di desa-desa (Village), suatu informasi dalam sekejap dapat menyebar dengan cepatnya, begitu pula dunia ini, sekarang satu informasi dapat terdistribusi ke seluruh penjuru hanya dalam waktu sepersekian detik.

Di Indonesia khususnya, dulu sistem komunikasi
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--yang dikenal dan diandalkan untuk menyampaikan pesan adalah Interpersonal Communication, kemudian tergeser oleh peran televise selaku Mass Communication sejak disosialisasikannya siaran televisi pada tahun 1962. Dan kemajuan media massa sebagai suatu sistem komunikasi semakin pesat setelah pasca lengsernya Soeharto. Ratusan media cetak bagai menjamur, stasiun televisi dan radio swasta bermunculan dan ideologi serta aspirasi bebas dipaparkan.
Semua itu tidak lepas dari peran proses dan inovasi manusia yang tak kenal henti, atau dengan kata lain terjadinya revolusi komunikasi.
Atas semua perkembangan sistem komunikasi ini, kita mempertanyakan bagaimanakah komunikasi bisa dijelaskan sebagai proses sosial, budaya dan politik?
A. Komunikasi sebagai Esensi Dasar Manusia
Manusia merupakan makhluk individu. Manusia senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan individunya terlebih dahulu sehingga kadang-kadang dalam lingkup sosial, kebutuhan individu ini lebih ditekankan daripada kebutuhan social kemasyarakatan.
Abraham Maslow merumuskan, ada lima macam kebutuhan manusia:
a. Fisik Biologis: bernafas, makan, minum, dll.
b. Keamanan dan Jaminan Hidup: perlindungan dan ketetapan, pekerjaan, pension, gaji, dll.
c. Diri dan Penghargaan: status, pangkat, penghargaan, hadiah, dll.
d. Pemenuhan dan Pencapaian Diri: keberhasilan melakukan tugas-tugas, bekerja kreatif, pendalaman kerohanian, dll.
e. Sosial dan Bergabung dengan Kelompok: diterima, berteman, dicintai, organisasi, dll.
Dari kelima kebutuhan manusia yang dirumuskan Maslow tersebut, ada fakta menarik yang bias dipetik yaitu bahwa selain manusia merupakan makhluk individu, manusia juga ada;ah makhluk social. Manusia akan terpenuhi jati diri kemanusiaannya apabila kebutuhan sosialnya telah terpenuhi, begitu pula sebaliknya.
Esensi manusia yang memiliki interdependensi dengan manusia lain inilah yang membuatnya berinteraksi dengan manusia lainnya, sehingga hal tersebut membuat komunikasi sangat berperan sebagai manifestasi untuk memenuhi kebutuhan manusia.
B. Komunikasi sebagai Proses Sosial
Manusia adalah makhluk sosial, hal ini dibuktikan dalam beberapa penelitian tentang perilaku manusia yang dikucilkan. Pengucilan atau penjauhan salah seorang manusia dari lingkungan hidupnya menjadikan ia tidak mampu berpikir, bersikap dan bertindak layaknya manusia normal. Karena manusia menjadi manusia hanya apabila dia meniru perilaku manusia lainnya, dan dalam proses peniruan tersebutlah, terjadi komunikasi, verbal maupun nonverbal.
Keseluruhan hidup manusia tidak akan terlepas dari komunikasi. Bahkan bisa dikatakan komunikasi adalah cara manusia meng-ada dalam dunianya. Oleh karena itu, komunikasi menjadi sebuah proses yang berlangsung terus menerus dalam masyarakat.
Jika dikaitkan dengan proses sosial, yang diartikan pengaruh timbal balik antar berbagai kehidupan masyarakat, komunikasi menjadi sebuah cara dalam melakukan perubahan sosial (social change). Komunikasi menjadi solusi berbagai deskriminasi atau pembedaan yang ada dan mampu merekatkan sistem sosial masyarakat.
C. Komunikasi sebagai Proses Kebudayaan
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya (Koentjaraningrat, 1997). Defenisi tersebut menjelaskan
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article-- bahwa kebudayaan merupakan hal yang sangat luas, mencakup gagasan, karya, dan budi manusia, sehingga tidaklah tepat melihat kebudayaan hanya sebatas karya manusia atau gagasannya, karena kebudayaan akan menemukan bentuknya jika dipahami secara keseluruhan.
Koentjaraningrat memaparkan unsure-unsur kebudayaan, yaitu:
a. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
b. Mata pencaharian dan system-sistem ekonomi
c. System kemasyarakatan
d. Bahasa (lisan maupun tulisan)
e. Kesenian
f. System pengetahuan
g. Religi atau system kepercayaan
Komunikasi yang ditujukan pada seseorang dari tribal (suku) atau kelompok lainnya adalah sebah pertukaran kebudayaan. Dalam proses pertukaran tersebut terkandung unsure-unsur kebudayaan, salah satunya bahasa. Sementara bahasa adalah alat komunikasi. Dengan demikian, komunikasi juga disebut proses budaya.
D. Komunikasi sebagai Proses Politik
Menurut Gabriel Almond komunikasi ibarat aliran darah yang mengalirkan pesan politik berupa tuntutan, protes dan dukungan (aspirasi dan kepentingan) ke jantung pemrosesan system politik. Dan hasil pemrosesan itu dialirka kembali oleh komunikasi poltik yang selanjtnya menjadi feedback system politik (Alfian, 1993)
Tanpa komunikasi, sebuah proses politik tidak akan terjadi. Komunikasi mempengaruhi kinerja politik yang sedang dijalankan, tanpa komunikasi berbagai komponen infrastruktur dan suprastruktur mengalami keterputusan hubungan yang membuat mekanisme system berjalan statis.
Dalam realitas politik di Indonesia misalnya, pada masa Orde Baru, di mana terjadi pemusatan atau sentralisasi kekuasaan sehingga proses distribusi kekuasaan berjalan di tempat, tidak terjadi komunikasi yang berarti antara pusat dan daerah, Wanbin atau dewan Pembina Partai Golkar yang tidak lain adalah presiden RI saat itu menjadi penentu regulasi, sehingga kekuasaan wanbin mutlak dan tidak goyah oleh kekuasaan lain (absolut), tanpa komunikasi aspirasi.
Sementara itu tradisi politik di Indonesia membutuhkan pengembangan sesuai dengan laju perkembangan masyarakat. Tradisi politik yang terus berubah-ubah sesuai kurun waktu, menyesuaikan diri dengan perubahan pula. Sebut saja era parlementer yang telah gagal karena tidak sesuai dengan tradisi yang kita miliki, hanya sebatas adopsi tradisi bangsa lain, emudian demokrasi terpimpin yang juga berakhir pada kegagalan, karena berkiblat pada warisan
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--kehidupan politik masa lalu (Sunan Amangkurat I, Mataram Jawa, Yogyakarta) sehingga terjebak oleh tradisionalisme. Hingga saat ini, demokrasi masih terus dijalankan.
Dengan komunikasi, realitas sejarah dan tradisi politik bisa dihubungkan dan dirangkaikan dari masa ke masa menjadi acuan ke masa depan. Komunikasi memiliki peran signifikan dalam menentukan proses perubahan politik di Indonesia.
Review Bab III Sistem Komunikasi Indonesia karya Nurudin terbitan Rajawali Press

Friday, October 24, 2008

Dasar-Dasar Teori Komunikasi

DASAR-DASAR TEORI KOMUNIKASI

Komunikasi merupakan suatu proses, proses yang melibatkan source atau komunikator, message atau pesan dan receiver atau komunikan. Pesan ini mengalir melalui suatu media. Yang kemudian bisa terjadi berbagai hambatan dalam prosesnya, inilah yang biasa dikenal dengan noise. Manusia senantiasa mengadakan komunikasi karena manusia membutuhkan transaksi dalam hidup, inilah modus utama sebuah komunikasi yaitu transaksional. Karenanya, komunikasi sering mengundang feedback dari para komunikannya.

Dalam mata kuliah Dasar-dasar Teori Komunikasi, akan dipelajari lebih mendalam lagi beragam proses penyampaian dan pertukaran pesan, dan ini berkaitan erat dengan media yang digunakan dalam prosesnya. Sebut saja jika komunikasi itu menggunakan media face to face, atau menggunakan media massa. Terdapat teori kontekstual yang sangat berbeda untuk dua contoh tadi.


Mempelajari teori-teori komunikasi menjadi semacam pedoman fundamental untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk lebih mengenal lagi bidang studi yang didalaminya.

Teori adalah konsep-konsep atau abstraksi, penyederhanaan dari suatu fakta atau pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri merupakan perspektif panca indera yang bisa jadi sangat relatif, karena tidak semua orang berlatar belakang sama, entah itu latar belakang pendidikan, budaya, agama, sehingga bagaimana menanggapi suatu pengetahuan bisa sangat berbeda antara seseorang dengan yang lain. Seorang yang melihat sebuah rumah dari depan, akan berbeda perspektif dengan orang yang melihat rumah yang sama dari samping.

Atas dasar heterogenitas manusia, keberagaman latar belakang, teori hadir menjadi konsep untuk dijalankan menjadi sebuah metode, menjadi intisari pengetahuan yang diterima secara universal, disepakati umum, hingga dalam hal ini memudahkan manusia untuk menerapkannya. Teori terbagi dua: General atau Umum dan Kontekstual.

1. Pendekatan Keilmuan

Sebuah pengetahuan, akan menjadi ilmu pengetahuan jika memenuhi syarat-syarat : sistematis, pengetahuan tersebut haruslah sistematis, tersusun dengan jelas, sehingga dapat dicerna akal manusia. Pengetahuan tersebut memiliki objek kajian, Filsafat misalnya, objek kajiannya adalah segala hal yang ada dan mungkin ada. Pengetahuan tersebut memiliki metodologi. Serta yang terakhir, pengetahuan tersebut bersifat universal, tidak diketahui oleh kelompok tertentu semata, bisa diterima khalayak luas.

Ilmu-ilmu pengetahuan yang beragam ini lalu diklasifikasi melalui beberapa pendekatan keilmuan:

a. Pendekatan Scientific

Pendekatan keilmuan scientific, sifatnya sangat objektif. Memiliki alat ukur yang terstandar (standardize). Sebuah alat ukur yang umum.

Ilmu pengetahuan yang terdapat dalam pendekatan scientific seperti Fisika, di seluruh dunia telah menjadi standar yang umum bahwa frekuensi bunyi adalah panjang gelombang dibagi waktu. Dan tidak akan terjadi perdebatan mengenai hal ini.

b. Pendekatan Humaniora

Sangat berbeda dengan pendekatan scientific, pendekatan humaniora sifatnya subjektif. Pendekatan ini memahami bahwa manusia dapat diukur. Pendekatan ini berkaitan dengan nilai, budaya, sejarah, dll. Seperti halnya pengalaman. Kita mendapatkan pengalaman dengan dua jalan, langsung dan tidak langsung. Idealnya, pengalaman langsung kita dapatkan untuk hal yang baik, seperti mendapatkan cumlaude di akhir kuliah. Dan pengalaman tidak langsung untuk hal-hal yang tidak begitu baik seperti kita mendengar kabar seseorang yang di-DO. Dari kedua pengalaman itu, kita memetik nilai-nilai.

c. Pendekatan Ilmu Sosial

Pendekatan ini merupakan perpaduan scientific-humaniora. Karena kadang kita mengamati gejala sosial manusia dan masyarakat menggunakan metode yang ilmuah, sistematis, melalui rangkaian proses.

1. TEORI KONTEKSTUAL

Dalam komunikasi, sebagaimana telah disebutkan di atas, kita mengenal banyak kondisi di mana komunikator menggunakan media yang berbeda dalam menghadapi berbagai jumlah komunikan, dan disertai tujuan komunikasi yang berbeda pula. Jika komunikator menginginkan self-disclosure dengan seseorang, maka dia perlu menerapkan metode-metode dalam teori komunikasi interpersonal. Sebaliknya, jika komunikator berkeinginan untuk menjalankan sebuah sistem kelompok, dengan tujuan yang akan dicapai bersama, maka dia akan memegang teguh prinsip-prinsip komunikasi kelompok.

Teori-teori itu disebut Teori Kontekstual, yang antara lain:

a. Intrapersonal Communication, yaitu interaksi dengan diri pribadi, yang sering terjadi ketika kita mempertimbangkan suatu hal. Interpersonal Communication mungkin terjadi karena setiap manusia memiliki dua hal yang bertentangan dalam dirinya yaitu ego dan nurani.

b. Interpersonal Communication, yaitu pertukaran pesan yang dilakukan dua orang yang sejajar, dan tidak lebih, di mana tujuan utamanya adalah self-disclosure. Pesan yang terdapat dalam komunikasi ini sifatnya pribadi, dan proses penyampaiannya lebih efektif melalui tatap muka secara langsung, meski dalam abad revolusi komunikasi saat ini, teknologi membolehkan terjadinya interpersonal communication, melalui telepon atau perbincangan (chat) di internet, dll.

c. Group Communication, yaitu pertukaran pesan dalam kelompok manusia yang sejajar dan berjumlah tiga hingga lima belas orang, yang saling berinteraksi dalam jangka waktu yang lama sehingga terjadi interdependensi dan menjadikan mereka memiliki tujuan yang sama.

d. Organizational Communication, adalah pertukaran pesan dalam organisasi, yaitu kelompok berstruktur. Terdapat aturan di dalamnya. Dan mereka melakukan interaksi yang terus-menerus demi tujuan utama sebuah organisasi: eksistensi.

e. Mass Communication, yaitu proses penyampaian pesan dari sebuah lembaga dengan masyarakat anonim yang heterogen sehingga pesannya bersifat umum dan cenderung bersifat satu arah, one way communication. Dalam komunikasi massa, tidak terjadi feedback/ umpan balik dan komunikasi massa senantiasa menggunakan teknologi.

f. Intercultural Communication, adalah pertukaran pesan antarkebudayaan.

1. TEORI UMUM

a. Teori-teori Fungsional & Struktural

Teori fungsional adalh teori yang asalnya adalah Biologi, teori ini menekankan pada bagaimana mengorganisir & mempertahankan sistem. Sementara teori struktural yang berasal dari ilmu linguistik berbicara tentang fakta bahwa seorang pengamat adalah bagian dari struktur, sehingga cara pandangnya juga akan dipengaruhi oleh struktur di luar dirinya. Teori struktural menekankan kajiannya pada bagaimana mengorganisir bahasa dan sistem sosial.

b. Teori-teori Behavioral & Kognitif

Dikenal juga sebagai tori tingkah laku dan teori pengetahuan. Teori-teori ini berkembang dari ilmu-ilmu pengetahuan behavioral dan aliran-aliran psikologi. Oleh karena itu, sifatnya sangat individual.

Pusat kajian teori behavioral & kognitif ini berfokus pada diri manusia secara individu. Salah satu konsep yang paling terkenal adalah teori S-R, Stimulus-Response yang menggambarkan bahwa proses informasi antara stimulus dan respon, bahwa manusia bersikap dan bertindak karena adanya stimulan. Manusia bersikap karena pengetahuannya yang dibentuk oleh lingkungan seperti lingkungan keluarga dan organisasi.

c. Teori Konvensional & Interaksional

Teori-teori ini berkembang dari aliran pendekatan interaksional simbolis, pandangan dan asumsi teori konvensional & interaksional bahwa kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang sifatnya membangun, memelihara, mengubah kebiasaan tertentu, termasuk bahasa dan simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasi. Bahwa pengetahuan dapat ditemukan melalui metode interpretasi makna.

d. Teori Kritis dan Interpretif

Penekanan teori kritis dan interpretif terletak pada peran subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman individual. Teori ini memandang “meaning” sebagai konsep kunci dalam teori-teori ini. Teori kritis dan interpretif dikembangkan oleh Negara-negara di Eropa, utamanya di Jerman, Frankfut School.