Thursday, October 1, 2009

Memuliakan Negeri Jiran

My first published article. It was published in Tribun Timur daily newspaper on Saturday, September 5th.

"Muliakanlah tetanggamu, maka bagimu surga. Itulah salah satu ajaran agama Islam yang tersurat dalam hadits. Bukan hanya menjadi norma agama tertentu, prilaku memuliakan tetangga merupakan norma umum yang tidak kontradiktif dengan ajaran keyakinan apapun itu.
Suatu penyimpangan, apabila kita tidak rukun bertetangga. Mengabaikan tetangga saja sudah salah, apalagi berbuat buruk terhadap tetangga.
Perihal tetangga-bertetangga ini kemudian direfleksikan ke skala yang lebih luas, lebih besar, bertetangga dalam bernegara. Indonesia, ditinjau dari perspektif geografis bertetangga dengan Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Australia, Timor Leste, Papua Nugini, dan Malaysia."

Read Memuliakan Negeri Jiran (click link) in Tribun Timur online.


The Deep End of The Ocean


Movie Info
Genre: Drama
Directed by: Ulu Grosbard
Produced by: Frank Capra III
Written by: Jacquelyn Mitchard (book), Stephen Schiff (screenplay)
Starring: Michelle Pfeiffer, Treat Williams, Whoopi Goldberg, Jonathan Jackson, Cory Buck, Ryan Merriman, Alexa Vega, and Michael McGrady
Release Date: Theatrical March 12, 1999, DVD March 6, 2001
Origin: USA
Language: English
Rating: PG-13 for language and thematic elements (based on certificate #35554)
Running Time: 106 Minutes
Distributed by: Sony Pictures Entertainment
Company: Columbia Pictures Corporation

Plot
Film ini diangkat dari buku Jacquelyn Mitchard dengan judul buku yang sama. Menceritakan tentang keluarga Cappadora yang terdiri dari Pat Cappadora (Treat Williams), Beth Cappadora (Michelle Pfeiffer), Vincent Cappadora (Jonathan Jackson/ Cory Buck), Ben Cappadora (Ryan Merriman/ Michael McElroy) dan Kerry Cappadora (Alexa Vega).
Kisah ini dimulai dengan permainan petak umpet Vincent dan Ben, dua kakak beradik Cappadora yang sangat dekat. Betapapun Ben sembunyi dari Vincent, Vincent –sang kakak- selalu bisa menemukannya.
Suatu ketika, Beth –Mrs. Cappadora- menghadiri reuni dengan teman-teman SMA-nya di sebuah hotel, dia mengajak ketiga anaknya, Vincent yang berusia 9 tahun, Ben yang berusia 3 tahun, dan Kerry yang masih bayi. Beth bertemu dengan sahabat-sahabat lamanya di lobi hotel, dan berpaling dari ketiga anaknya selama beberapa saat, meminta Vincent menggenggam tangan Ben. Begitu Beth kembali, dia menemukan Vincent tak bersama Ben. Beth tercengang, dia panik mencari-cari, namun terjadilah ketakutan terbesar seluruh orang tua di dunia, anak hilang.
Candy Bliss (Whoopie Goldberg) dari kepolisian memaparkan jika anak itu tidak ditemukan dalam waktu satu kali enam jam, maka sang anak dianggap diculik. Menit demi menit berlalu, Pat –Mr. Cappadora- tiba di saat-saat genting, ketika enam jam Beth nyaris habis. Beth menjerit ketika enam jamnya diklaim telah berlalu, Ben resmi diculik.
Kepergian Ben membuat Beth depresi, awalnya dia didukung oleh ratusan sukarelawan untuk mencari Ben, tetapi sukarelawan tersebut satu demi satu meninggalkannya –seiring dengan keyakinan mereka, bahwa Ben telah lenyap untuk selamanya. Beth-pun semakin goyah, Pat prihatin melihat kondisi istrinya, setiap hari Beth hanya terlelap, seperti hidup bukan di masa ini, dan bukan sebagai dirinya. Beth melupakan Vincent, melupakan Kerry, di pikirannya hanya ada Ben.
Pat menyadarkan Beth, betapa dia sungguh larut dalam peristiwa kehilangan ini. Mereka tetap harus melanjutkan hidup, itu kata Pat. Dan Beth kembali terbuka, dia menyibukkan dirinya dengan kegiatannya dulu, memotret. Sementara itu Candy Bliss, sang detektif kepolisian, masih sering memberi kabar tentang kemajuan pencarian Ben. Bliss memberikan proyeksi wajah Ben, sepuluh tahun dari sekarang.
Sembilan tahun kemudian, seorang anak bernama Sam Karras mengetuk rumah keluarga Cappadora, menawarkan jasa pemotongan rumput. Wajah Sam menyerupai gambar proyeksi penuaan Ben. Beth terkejut, dia memotret anak itu dari balkon rumahnya, dan memperlihatkan hasil fotonya pada Pat. Pat-pun menduga, anak itu mungkin saja Ben.
Mereka melacak data anak itu, menemukannya hidup hanya beberapa blok dari rumah mereka. Dia adalah seorang anak adopsi keluarga Karras yang bahagia, dan tidak punya bayangan sedikitpun tentang masa kecilnya.
Rupanya Ben diculik oleh teman SMA Beth pada hari reuni, seorang wanita dengan ketidakstabilan mental. Setelah menculik Ben, dia menikahi George Karras dan pindah ke kompleks yang sama dengan keluarga Cappadora. Wanita itu meninggal lima tahun kemudian.
Sam lalu diajak kembali ke rumahnya yang dulu, hidup bersama keluarga Cappadora. Karena fakta bahwa dia adalah seorang Cappadora, Sam atau Ben, menerima ajakan ini. Tetapi hanya beberapa saat dia bisa tinggal di sana, bagaimanapun dia tidak mengingat masa lalunya, dan dia tidak mengerti, mengapa dia harus tinggal tiga blok jauhnya dari rumah ayahnya sendiri, George Karras.
Beth terluka mendengar pengakuan Ben. Entah kenapa, saat ini seakan-akan dia yang mencuri Ben dari keluarganya. Beth-pun mengembalikan Ben kepada George Karras.
Di waktu yang sama, Vincent yang dewasa tanpa perhatian cukup dari Beth, menjadi remaja yang berantakan. Dia rupanya telah lama menyadari kehadiran adiknya di blok itu, tetapi tidak peduli. Saat Ben kembali ke rumah ayahnya, George Karras, dia mengingat peristiwa-peristiwa masa lalunya, bahwa dulu dia sering bermain petak umpet dengan Vincent, dan Vincent selalu menemukannya. Ben lalu menemui Vincent dan mengaku, dia tidak takut saat dia hilang sembilan tahun lalu, karena dia tahu Vincent akan menemukannya.
Vincent Cappadora - Age 16: You were just lying there, not scared or anything…
Sam Karras/ Ben Cappadora (Age 12): I know that's what I remembered, that I wasn't scared, because I knew you'd come and find me.
Kenangan dengan Vincent membuat Ben mencoba kembali hidup dengan keluarga Cappadora.

Testimony
“Michelle Pfeiffer and Treat Williams give such magnetic performances that they elevate the film way above its middlebrow sensibility and proclivity for neat resolutions.” (Variety-Emmanuel Levy)
“Two films in one: an intriguing child-disappearance mystery and an uncommonly affecting domestic drama realized by four terrific central performances.” (USA Today-Mike Clark)
“So finely crafted, so alive with wonderful acting and an extraordinary commitment to realism that most audiences will be happy to surrender themselves to its improbable ride.” (Salon.com- Andrew O'Hehir)

Reviewer’s comment
Satu lagi film keluarga yang menyentuh. Menggurui dengan sangat halus tentang bagaimana keluarga membantu dalam situasi yang paling sulit sekalipun.
Hubungan Pat dan Beth, pasangan suami istri yang saling menguatkan, bahkan pada saat yang satu menjelma jadi orang yang berbeda. Hubungan Beth dan Ben, menyiratkan bagaimana seorang ibu hancur atas kehilangan anaknya, kasih ibu yang luar biasa. Hubungan Ben dan Vincent, ikatan adik dan kakak yang erat, satu peristiwa remeh di masa kecil yang bisa menjadi kenangan yang kuat pengaruhnya suatu saat nanti. Hubungan Bliss dan Beth, persahabatan yang memberi dukungan. Kemudian hubungan Ben atau Sam dengan George, hubungan adopsi yang tidak mengurangi kasih sayang antarkeduanya.
Semua hubungan tersebut memiliki makna mendalam yang akan sulit diuraikan dengan operasionalisasi konsep.
Sekalipun The Deep End hanya mandapat nilai 45 dari rata-rata review di metacritics.com, film ini sangat layak tonton, sesuatu yang lebih dari nilai 45, nilai pencerahan hati mungkin.

Sumber
The Deep End of The Ocean Movie
http://www.imdb.com/title/tt0120646/awards
http://www.metacritic.com/film/titles/deependoftheocean
http://en.wikipedia.org/The_Deep_End_of_The_Ocean(film)



Wednesday, September 2, 2009

A. PAHAM JURNALISTIK


1. Objective Journalism: jurnalisme yang menjunjung tinggi objektivitas, seperti yang banyak ditemui saat ini.


2. Peace Journalism: memberitakan berita yang mendamaikan. Misalnya jika ada konflik, peace journalism akan menilik dari segi implikasi terhadap masyarakat, bukan aspek mengapa dan bagaimana konflik itu terjadi.


3. Government Say So Journalism: jurnalistik yang berjalan atas kehendak pemerintahan.


4. Check Book Journalism: jurnalisme yang taat pada norma, aturan, etika yang telah ditetapkan lembaga.


5. Crusade Journalism: Jurnalisme yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, sebut saja jurnalisme jihad.


6. Gotcha Journalism, Jazz Journalism, Yellow Journalism: adalah jurnalisme yang menyajikan berita berlebih-lebihan, sensasional, berupa gossip, skandal, dan kriminalitas. Jurnalisme ini menafikan hak asazi manusia.


7. Jurnalisme Advokasi: yaitu jurnalisme yang berusaha mendorong suatu tema berita tertentu, yang tidak begitu dibutuhkan masyarakat, namun penting untuk memperoleh perhatian. Misalnya advokasi lingkungan hidup.


8. Jurnalisme Sastrawi: jurnalisme yang menekankan pada keindahan bertutur, sehingga pembaca bisa nyaman dalam penyajiannya.


(dari MK Dasar-Dasar Jurnalistik Semester IV)



B. PRINSIP UTAMA JURNALISME

Dennis McQuail mengemukakan empat prinsip utama jurnalisme, yaitu:

1. Bebas dan independen
Kebebasan dan independensi pers, menurut McQuail, berarti berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, bukan tunduk kepada kepentingan tertentu. Menyangkut isis berita (redaksional) pers tidak dikontrol atau dikendalikan secara formal (UU, peraturan, dll). Meskipun demikian, terdapat sejumlah criteria, seperti wartawan memisahkan antara opini sang wartawan, opini narasumber, serta berita yang semata-mata deskripsi atas fakta peristiwa yang terjadi. Sifat berita
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--itu lazimnya adalah hal yang baru dan perlu diketahui masyarakat luas. Sehingga berita atau opini yang bersifat rutin dan sudah umum diketahui, pengulangan, serta penyampaian hal-hal yang sifatnya stereotype perlu dihindari.

2. Tertib dan menciptakan solidaritas
Pers terlibat aktif dalam memelihara dan mendukung ketertiban dan menciptakan solidaritas sosial. Namun bukan ketertiban dan menciptakan solidaritas sosial. Namun bukan ketertiban dan mobilisasi seperti yang dipersepsikan oleh pemerintah,
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article-- elit politik, dll. Penjabaran prinsip ini, misalnya pers ikut menahan diri, tidak memberitakan persoalan yang bisa memicu konflik antar kelompok masyarakat, mendorong meluasnya prilaku menyimpang, serta hal-hal lainnya yang dipandang mengganggu ketentraman dan ketertiban sosial.

3. Keragaman
Pemberitaan pers yang diupayakan secara maksimal merefleksikan keragaman masyarakat, selain itu memberikan akses yang sama bagi berbagai pihak yang berkepentingan. Sehingga pers berperan sebagai wacana public, bukan mengedepankan kepentingan kelompok tertentu, seperti kalangan elit pemerintah, melainkan justru menyuarakan aspirasi masyarakat.

4. Objektifitas
Prinsip ini berkaitan dengan isi informasi yang disampaikan. Objektivitas dalam pemberitaan meliputi: factual dan impartial. Satu berita disebut factual apabila isinya benar, sesuai realitas, tanpa ditambah-tambahi atau didramatisasi. Dengan demikian wartawan tidak membuat interpretasi atau opini tentang keterkaitan suatu peristiwa, selain mendeskripsikannya sebagai fakta. Impartial mencakup: keseimbangan, dan netralitas.
(dari buku Kompetensi Wartawan: Pedoman Peningkatan Profesionalisme Wartawan dan Kinerja Pers diterbitkan Dewan Pers dan Friedrich Ebert Stiftung)

Prinsip-prinsip Pers dalam Comission of The Freedom of The Press oleh Robert Hutchins:

1. Pers harus menerima dan melaksanakan tugas-tugas pembangunan yang positif sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan secara nasional.

2. Kebebasan pers harus terbuka bagi pembatasan sesuai dengan prioritas ekonomi, kebutuhan-kebutuhan pembangunan bagi masyarakat.

3. Pers harus memberikan prioritas dalam isinya kepada budaya dan bahasa nasional (McQuail).

4. Pers harus memberikan prioritas dalam berita dan informasi untuk menghubungkannya dengan Negara-negara berkembang lain yang dekat secara geografis, budaya dan atau politis.

5. Para wartawan dan pekerja pers lainnya punya tanggung jawab maupun kebebasan dalam tugas menghimpun dan menyebarluaskan informasi mereka.

6. Demi kepentingan tujuan pembangunan, Negara mempunyai hak untuk ikut campur atau membatasi operasi-operasi media pers, serta penyelenggara sensor, pemberian subsidi dan kontrol langsung dapat dibenarkan.


C. ELEMEN-ELEMEN DASAR JURNALISTIK


Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (2001) merumuskan sembilan elemen jurnalisme:

1. Menyampaikan kebenaran

Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran fungsional. Bukan kebenaran yang banyak dicari orang-orang dalam filsafat. Bukan kebenaran mutlak, apalagi kebenaran tuhan. Bukan pula kebenaran yang bersifat religious, ideologis, atau berdasar pandangan seseorang. Sebab, pemberitaan wartawan bisa memiliki bias. Latar belakang sosial, pendidikan, kewarganegaraan, kelompok etnik, atau agama, bisa mempengaruhi laporan yang dibuatnya. Kebenaran fungsional berarti kebenaran yang terus menerus dicari. Kebenaran mengenai, misalnya, harga bahan-bahan pokok saat ini, nilai kurs mata uang, atau hasil pertandingan olah raga.
Jurnalisme melaporkan materi keberanan apa yang dapat dipercaya dan dimanfaatkan masyarakat pada saat ini. Berbekal kebenaran tersebut, masyarakat belajar dan berpikir mengenai segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.

2. Memiliki loyalitas kepada masyarakat

Ini memaknakan kemandirian jurnalisme. Para jurnalis tidak bekerja atas kepentingan pelanggan. Para jurnalis bekerja atas komitmen, keberanian, nilai yang diyakini, sikap, kewenangan, dan profesionalisme yang telah diakui publik.

3. Memiliki disiplin untuk melakukan verifikasi

Verifikasi dalam artian menelusuri sekian saksi untuk mengungkap sebuah peristiwa, mencari sekian banyak narasumber, dan mengungkap sekian banyak komentar. Verifikasi juga berarti memilah jurnalisme dari hiburan, propaganda, fiksi dan seni. Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi: jangan menambah atau mengarang apapun; jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar; bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metoe dan motivasi dalam melakukan reportase; bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri; bersikap rendah hati.

4. Memiliki kemandirian terhadap apa yang diliputnya

Ini berarti tidak menjadi konsultan diam-diam, penulis pidato, atau mendapat uang dari pihak-pihak yang diliput. Arti lainnya, menunjukkan kredibilitas kepada berbagai pihat, melalui dedikasi terhadap
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--akurasi, verifikasi, dan kepentingan public. Atau, kemandirian melakukan kegiatan jurnalisme dengan ketaatan dan penghormatan yang tinggi pada prinsip kejujuran, kesetiaan pada rakyat, serta kewajiban memberi informasi, dan bukan manipulasi.

5. Memiliki kemandirian untuk memantau kekuasaan

Elemen ini terkait dengan kegiatan investigatif pers. Kegiatan media melaporkan berbagai pelanggaran, kasus, atau kejahatan yang dilakukan pihak-pihak tertentu, baik pihak pemerintah ataupun lembaga-lembaga yang kuat di masyarakat. Laporan pers, dengan demikian, mencegah para pemimpin pemerintahan, politik, organisasi public, dan lainnya, agar tidak melakukan sesuatu yang tidak semestinya.

6. Menyadi forum bagi kritik dan kesepakatan publik

Ialah meletakkan jurnalisme sebagai forum bagi kritik dan kesepakatan publik. Elemen ini merupakan upaya media menyediakan ruang kritik dan kompromi bagi publik. Ketika sebuah berita dilaporkan, media berarti mengingatkan masyarakat akan terjadinya sesuatu. Selain berita, media juga menyediakan ruang analisis untuk membahas peristiwa tersebut melalui konteks, perbandingan atau perspektif tertentu.
Kovach dan Rosenstiel menilai: “jurnalisme tidak saja memiliki kewajiban untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang diperlukan masyarakat, tetapi juga memberikan sebuah forum kepada masyarakat untuk membangun ikatan yang mengembangkan masyarakat.”

7. Menyampaikan sesuatu secara menarik dan relevan kepada publik

Elemen ini mewajibkan media untuk melaporkan berita dengan cara yang menyenangkan, mengasyikkan dan menyentuh sensasi masyarakat. Ditambah pula, dilaporkannya suatu berita tersebut menjadi sesuatu yang paling penting dan bermanfaat bagi masyarakat.

8. Membuat berita secara komprehensif dan proporsional

Mutu jurnalisme amat tergantung pada kelengkapan dan proporsionalitas pemberitaan yang dikerjakan media. Elemen ini mengingatkan media agar tidak jor-joran meliput sensasi acara pengadilan atau skandal selebritas, hanya untuk menaikkan rating, oplah, atau iklan. Apalagi pelaporannya tidak disertai verifikasi, pengecekan silang, atau wawancara berbagai pihak terkait.
Media harus menghindari khalayaknya menjadi miskin informasi disebabkan isi pemberitaan yang tidak lengkap materinya dan menonjolkan sesuatu yang tidak proporsional.

9. Memberi keleluasaan wartawan untuk mengikuti hati nurani mereka

Ini terkait dengan sistem dan manajemen media yang memiliki keterbukaan. Keterbukaan ini berguna untuk mengatasi kesulitan dan tekanan wartawan dalam membuat berita secara akurat, adil, imbang, independen, berani dan bertanggung jawab kepada masyarakat. Media harus memberi ruang bagi wartawan untuk merasa bebas berpikir dan berpendapat.
Organisasi berita yang baik memberikan peluang bagi wartawan untuk menyatakan perbedaan sikap dan pendapat, melakukan
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--penolakan terhadap redaktur, pemilik media, pemasang iklan, bahkan kekuatan tertentu di masyarakat. Selama hal itu terkait dengan prinsip kejujuran dan akurasi yang dipegang wartawan. Ini berarti mengembangkan budaya media yang melindungi tanggung jawab pribadi sebagai dasar kerja.
(dari buku Jurnalisme Kontemporer oleh Septiawan Santana K. diterbitkan Yayasan Obor, Jakarta tahun 2005)


D. TUJUAN JURNALISTIK

Tujuan secara umum:
1. To inform
2. To educate
3. To entertain
4. Social control

Tujuan lainnya:
1. To provide citizens with information they need to be free and self-governing (Kovach & Rosenstiel, 2001)
2. To tell the truth, so that people will have the information they need to be sovereign (Jack Fuller)
3. To serve the general welfare by informing the people (American society of newspaper editors)
(dari MK Dasar-Dasar Jurnalistik Semester IV)

Harold D. Lasswell (1946) mengungkapkan bahwa dalam sistem domokrasi, jurnalistik paling tidak memiliki tiga fungsi sosial, yaitu fungsi pengawasan sosial (Social Surveillance), fungsi korelasi sosial (Social Correlation), dan fungsi sosialisasi (Socialization). Fungsi pengawasan merujuk
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--pada penyebaran informasi dan interpretasi dengan tujuan control sosial agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, fungsi korelasi sosial adalah menghubungkan satu kelompok sosial dengan kelompok lainnya, antara satu pandangan dengan pandangan lainnya dengan tujuan mencapai konsensus atau kesepakatan bersama.
(dari buku Kompetensi Wartawan: Pedoman Peningkatan Profesionalisme Wartawan dan Kinerja Pers diterbitkan Dewan Pers dan Friedrich Ebert Stiftung)

E. FUNGSI JURNALISTIK

1. To give a daily account of what is happening in the world
2. To serve as watchdog on government
3. To inform the citizens so they can participate democratic decision making
4. To provide a forum for a wide range of views
5. To give citizens practical information for every day living
6. To provide continuing education for adults
7. To provide entertainment
(dari MK Dasar-Dasar Jurnalistik Semester IV)

F. DEFENISI JURNALIS
Sesuai dengan defenisi Pers dalam UU Pers no. 40 tahun 1995: “Pers yaitu lembaga sosial dan wahana komunikasi massa
--this article is a copy of kindasoup.blogspot.com works, if you don't erase this, it means you don't manage to read entire article--meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta dalam grafik maupun dakan bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia”, maka jurnalis adalah orang yang melaksanakan kegiatan jurnalistik secara teratur, dan digolongkan menjadi enam bagian:
1. Jurnalis mencari
2. Jurnalis memperoleh
3. Jurnalis memiliki
4. Jurnalis menyimpan
5. Jurnalis mengolah
6. Jurnalis menyampaikan
(dari MK Dasar-Dasar Jurnalistik Semester IV)