Sunday, July 10, 2016

Dia tidak suka kamu. Titik.

Jadi saya akan menuliskan kisah, anggap saja fiksi dan semoga saja fiksi, mengenai dering telepon tengah malam dan seorang akhwat dokter muda yang shalihah insyaAllah, anak pejabat, dan anggun rupawan. Cerita ini dikisahkan dari sudut pandang saya, sebagai... hmm... entah apa posisi saya dalam cerita ini, mungkin pihak pengamat yang selalu saja terlibat, akhirnya malah baper. hahah

Mei atau mungkin Juni... Juli 2014, ada seorang ikhwan yang konstant menghubungi suami saya. Waktunya selalu di atas jam sembilan malam. Ikhwan itu sering curcol mengenai kegalauannya ingin menikah sebagaimana suami saya yang baru menikah Mei tahun itu (dengan saya ya). Ia sering membahas mengenai satu akhwat yang sering ia temui di organisasi relawan. Akhwat itu baru saja lulus s1, dan sedang menempuh co-assistant dokter di sebuah rumah sakit yang paling ramai dikunjungi di provinsi ini.

Saya kenal akhwat itu tentu. Ia adik yang baik. Saya pernah mengganti kawan saya mengisi halaqahnya, dan si adik selalu saja izin ke hijab karena dicari beberapa ikhwan seorganisasi yang ada perlu dengannya. Karena itu saya ingat dia. Dia berpenampilan selalu sederhana, sekalipun di kemudian hari saya dapat kabar dia ternyata anak pejabat tinggi. Setiap bertemu saya dia selalu menyapa ramah dan menemani saya mengobrol lama.

Singkat cerita semakin galaulah si ikhwan ini. Ia hanya ingin menikah dengan si adik itu sahaja. Tak boleh yang lain. Sekalipun standarnya amat tinggi. Belum lagi posisi akhwat itu di jamaah. Si ikhwan ini mah butiran debu.

Sayapun mengiyakan untuk menghubungi akhwat itu langsung (karena saya dan suami sudah agak terganggu oleh si ikhwan yang menghubungi hampir tiap malam untuk curhat). Tanpa perantara murobbiyah. Kenapa? Yah, karena jalur pernikahan bukan itu saja yang halal kan?

Saya menanyakan kepada si akhwat apakah ia bersedia taaruf, tanpa saya bocorkan identitas si ikhwan. Cuma ingin mengetahui kesiapan akhwat ybs untul melangkah ke tahapan hidup selanjutnya. Dan jawabannya: ia diskusikan dulu dengan murobbiyahnya dan sholat. Alhamdulillah... jawaban ini bercerita banyak: bahwa boleh jadi ini taaruf pertamanya, dan ia sebenarnya belum berpikir ke arah pernikahan, tetapi kalau saja jodohnya datang, maka tak patut ia menghindar.

Beberapa waktu setelahnya saya mendapat pesan dari si akhwat dengan membaca basmalah ia siap taaruf, akan tetapi harus melibatkan murobbiyahnya.

Saya dan murobbiyahnya saling kenal dan cukup akrab, sayapun memberikan biodata si ikhwan. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya ketika identitas si ikhwan terbongkar sungguh di luar dugaan. Berhari-hari tidak ada biodata balasan dari sang akhwat, sampai si ikhwan kembali galau dan dilanda kesedihan. Kami membujuk murobbiyahnya untuk memberikan biodata, dan naas, biodata yang kami terima jauh dari layak untuk dikatakan biodata proposal pernikahan.

Murobbiyah si akhwat menghubungi saya berkali-kali, meminta pembenaran atas sikap mutarabbinya tersebut. Bahwa itu merupakan haknya sepenuhnya untuk memutuskan taaruf. Tapi ini tidak konsisten dengan perkataan si akhwat bahwa ia siap... setidaknya ia harus melalui semua proses dengan lapang dada.

Alhasil, suami saya menelpon sendiri ke suami murobbiyah si akhwat meminta proses ini dilanjutkan sebagaimana mestinya, dan keputusan menikah atau tidak diletakkan di akhir proses bukan di tengah.

Singkat cerita si ikhwan dipertemukan dengan akhwat dengan mediator murobbiyahnya. Si ikhwan berharap, sangat berharap pertemuan ini bisa meluluhkan hati si akhwat. Meski nyatanya keputusan si akhwat sudah bulat: ia tak ingin melanjutkan taaruf. Si ikhwan ini putus asa.

Beberapa kali saya bertemu dengan si akhwat dan sepertinya ia mulai menganggap saya tidak ada. Entah salah saya di mana dalam cerita ini, sepertinya ada distorsi. Saya dan suami adalah pihak netral yang menginginkan kebaikan bagi baik si ikhwan maupun si akhwat, dan nampaknya saya telah dianggap menjerumuskannya untuk mah menikahi si ikhwan. Allahurobbi... banyak hubungan pertemanan yang tidak lagi sama setelah hari itu.

Juli 2016, si ikhwan setelah sekian lama menghubungi suami saya lagi agar diuruskan lagi dengan si akhwat. Suami saya menolak matimatian. Saya yang tahu si ikhwan menghubungi lagi jadi sedikit tersulut emosi. Ikhwan ini apa hidup di buku ketika cinta bertasbih, ya? Biar saya beritahu beberapa hal tentang penolakan akhwat secara general:

1. Ia tidak suka denganmu
2. Ia tidak suka denganmu
3. Ia suka orang lain.

Sudah itu saja.

Saturday, July 2, 2016

Anak Sholihah InsyaAllah

Sungguh bersyukur mendapatkan petunjuk Allah dalam mendidik anak. Seharusnya mendidik anak bukanlah hal yang rumit, cukup membaca cues atau arahan Allah yang dizahirkan lewat anak. Karena itulah, sesungguhnya yang belajar ialah orangtua, anak hanya menjalankan fitrahnya secara alamiah sesuai ketetapan Allah. Selebihnya kita yang belajar dan berusaha.

Saat anak kita baru lahir, ia menangis lapar dan mencari makan dengan mulutnya yang mungil. Kita belajar bahwa pada saat itu yang paling sesuai baginya ialah ASI yang mengalir dialirkan Allah dari diri kita.

Saat ia masih juga menangis, kita belajar bahwa Allah telah menciptakan tangan kita untuk meraih, mendekapnya dekat agar ia dapat mendengar detak jantung kita yang akrab semasa ia dalam kandungan.

Saat ia mengisap jempolnya, kita membiarkannya karena mempelajari bahwa setiap kali ia mengisap jempol ia menjadi lebih tenang dan tidak rewel, sehingga kita menyimpulkan bahwa itu sebuah kecerdasan alamiah untuk menenangkan dirinya sendiri.

Saat ia belajar makan makanan padat, kita melihat bahwa ia tak mampu menelan yang lebih padat dari puree dan kitapun mulai berkutat dengan saringan dan bahan makanan serba natural. Kadang ia mencoba menggenggam, dan kita memanfaatkan kesempatan ini dengan memberinya potongan buah yang aman sambil ia belajar mengenali tekstur.

Saat nampaknya ia bosan dengan posisi horizontal, kita mulai memangkunya dan memperlihatkannya dunia dalam posisi vertikal sehingga ia terbujuk untuk duduk.

Saat ia mulai mengenal mainan, kita memberikannya semua mainan yang ia butuhkan untuk melatih motorik dan sensoriknya. Warna cerah. Manik-manik untuk dexterity. Buku untuk menggantikan tv.

Saat ia mulai berbicara, kita belajar untuk meresponnya sehingga ia mau berkomunikasi dua arah dengan kita. Menjauhkannya dari komunikasi satu arah seperti gadget dan tv yang rendah dimensi.

Saat ia mulai berdiri, kita mengapresiasinya dengan pelukan dan tepuk tangan dan selalu berada di sisinya karena ia masih belajar untuk seimbang.

...

Ah. Dua puluh sembilan hari lagi Gena genap setahun. Mau bilang tidak terasa ya? Rasanya tidak bisa karena keorangtuaan ini benar-benar kami nikmati setiap suka dan dukanya. Ketika ia menangis tiap malam selama sebulan lebih, dan ASI rasanya 'kurang'. Ketika ia membangun kebiasaan digendong sebelum tidur. Ketika ia melalui fase separation anxiety. Ketika ia mulai makan. Ketika ia mulai tengkurap-duduk-merangkak-berdiri. Ketika ia mulai meniru suara, gerak dan ekspresi. Ketika ia mulai punya mainan favorit. Semuanya terasa, setiap detiknya. Dan untuk semua keorangtuaan ini kami mengucap hamdalah. Semoga kamu selalu menjadi anak sholihah.

Friday, June 24, 2016

Gena dan Bukunya

Pertama kali Gena tertidur di pangkuan selagi dibacakan buku siang ini 24/6. Bedtime stories.
*
Seperti hampir semua hal dalam hidup, parenting juga butuh perencanaan dan strategi. Termasuk memperkenalkan buku kepada anak sebagai 'mainan' yang menyenangkan. Mendengarkan kisah atau membaca sendiri punya banyak manfaat buat anak, dan atas kesadaran itu kami mulai memperkenalkan buku. Apa terlalu dini? Tidak juga, Metode Montessori bahkan menganjurkan pengenalan buku sejak usia 0 hari. Coba saja google 1000 buku dalam tiga tahun.

Gena dibelikan Tante Caca dan Om Isman buku pertamanya pada usia 4 bulan, buku kain berbentuk boneka dan buku yang boleh dibawa mandi. Respon awalnya biasa saja, bahkan kurang tertarik.

Kami membelikan buku-buku baru dua bulan lalu, bukunya disobek sama Gena dan sudah diselotip sana-sini. Dan sekian lama terlupakan oleh kami dan Gena. Kadang Abi Gena membacakan kisah dari kumpulan kisah dalam AlQuran sambil Gena sibuk merangkak sana sini.

Baru bulan ini Gena menunjukkan ketertarikan ke buku. Ia mulai membuka-buka bukunya dan bisa menghabiskan waktu cukup lama mengamati gambar-gambar yang ada. Kami menambah lagi koleksi bukunya dan ia semakin berminat, bahkan mau duduk tenang di pangkuan mendengarkan cerita sambil mengamati gambar-gambar.

Usaha insyaAllah tidak akan mengkhianati hasil. Saya jadi teringat usaha kedua orang tua saya agar kami bersaudara senang membaca. Sekalipun hidup sulit, selalu ada yang dapat disisihkan untuk berlangganan majalah ORBIT yang merupakan majalah di bawah yayasan Habibie Center. Selalu dapat membelikan kami majalah Annida dari toko Ustad Umar Qasim atau komik berkala Monica atau Paman Gober. Bahkan Aba dan Ummi rela memesankan kami buku Perananku terbitan Dalancang Seta yang custom made, pemeran di tiap-tiap buku adalah nama kami sendiri!

Dan tiada percuma. Anaknya tumbuh menjadi seorang pembaca. Bahkan penulis. Allahu Akbar!

Demikian juga pada anak kami kali ini. Sekarang giliran kami untuk berusaha semampu kami bisa untuk menjadikannya anak yang senang membaca.