Friday, September 2, 2016

BB atau Sesuatu Yang Sebaiknya Tidak Dibicarakan

Rasa-rasanya isu BB amat sensitif dan tabu diangkat bagi sebagian orang. Yaitu orang-orang yang tengah berjuang memberi asi eksklusif bagi bayinya yang baru lahir, berusaha mencukupi kebutuhan gizinya demi asi berkualitas, yang tiba-tiba ada tamu datang langsung nyeletuk "hamil lagi ya?"

Ya, berdukalah semua yang memiliki kasus serupa. Saya salah satunya.

Berdasarkan garis keturunan, wanita dalam keluarga saya adalah tipe yang tidak mengempis pasca melahirkan. Berat badan senang terhadap kami, meski kami tidak terlalu ramah padanya.

Pada sayapun hal yang sama terjadi. Sudah saya niatkan untuk menerima kenyataan bahwa melahirkan merubah kita di jiwa dan di raga. Sayangnya niat hanya jadi niat kalau sudah ada yang komentar seperti di atas. Entahlah ideologi macam apa yang menghakimi perempuan bertubuh bongsor tidak ideal. Hei, lagipula siapa sih percetus hal-hal ideal? Ideal di mata siapa?

Ah ya, kalau menyangkut berat badan ideal, maka itu ideal di mata dunia kesehatan. Selain merupakan anjuran agama kita untuk para istri menjaga penampilan demi suami.

Jadi, seberapapun saya berusaha ngeles mengenai ini, saya selalu berakhir dengan kesadaran bahwa saya lagi ngeles saja. Namun sayang ini terjadinya sambil makan kacang yang banyak biar asi tetap lancar.

Sayapun tergolong yang menyesali namun tak berbuat suatu apa yang signifikan untuk menurunkan berat badan yang saat itu naik hingga 20kg. Ada banyak hal yang lebih patut dipikirkan, seperti Chadijah Masagena Ihsan (Cmi), bayi usia dua bulan saya kala itu, yang mengalami apa yang disebut orang sebagai 'bau tangan'.

Bau tangan berarti anak senang digendong dan tak mau turun kecuali sudah lelap tertidur. Saya dan Abu CMI sepakat tak akan memperkenalkan ayun pada CMI demi alasan apapun. Kami tidak percaya CMI mengalami bau tangan atau apalah itu, kami hanya tahu dia bertransisi dari hangatnya pelukan rahim ke dinginnya dunia luar, dan paling masuk akal untuk mendekapnya selama yang ia mau, bukan menyimpannya di ayun kain.

Maka saya menggendong CMI setiap hari, bergantian dengan Abu CMI.

MasyaAllah. Menggendong anak yang merupakan fitrah kita sebagai orangtua, sebagai ibu, berdampak amat positif pada mental anak. Kita membangun kepercayaan anak; meyakinkannya bahwa saat ia membutuhkan, kita selalu ada; memupuk kepercayaan dirinya sehingga nanti ia tak banyak cemas ketika belajar cara kerja dunia.

Dan tidak pernah saya sangka, ada keuntungan lain yang saya peroleh dari mendekap dan menggendong CMI: perusia CMI yang memasuki 8 bulan, berat badan saya hilang hingga 15kg, dan kembali seperti sebelum melahirkan saat usia CMI 1 tahun.

Bisa ditebak apa yang terjadi sampai saya kehilangan semua berat badan kehamilan saya: sampai hari inipun saya masih menggendong CMI sebelum tidur. Lumayan, membakar kalori berlebih yang masuk seharian. Tetapi sungguh saya tidak memandang itu sebagai suatu tantangan atau beban. Itu adalah fitrah sebagai ibu, sekaligus sebagai istri :D

Semoga bermanfaat untuk ibu-ibu di luar sana yang tidak seberuntung Kate Middleton.

Sunday, July 10, 2016

Dia tidak suka kamu. Titik.

Jadi saya akan menuliskan kisah, anggap saja fiksi dan semoga saja fiksi, mengenai dering telepon tengah malam dan seorang akhwat dokter muda yang shalihah insyaAllah, anak pejabat, dan anggun rupawan. Cerita ini dikisahkan dari sudut pandang saya, sebagai... hmm... entah apa posisi saya dalam cerita ini, mungkin pihak pengamat yang selalu saja terlibat, akhirnya malah baper. hahah

Mei atau mungkin Juni... Juli 2014, ada seorang ikhwan yang konstant menghubungi suami saya. Waktunya selalu di atas jam sembilan malam. Ikhwan itu sering curcol mengenai kegalauannya ingin menikah sebagaimana suami saya yang baru menikah Mei tahun itu (dengan saya ya). Ia sering membahas mengenai satu akhwat yang sering ia temui di organisasi relawan. Akhwat itu baru saja lulus s1, dan sedang menempuh co-assistant dokter di sebuah rumah sakit yang paling ramai dikunjungi di provinsi ini.

Saya kenal akhwat itu tentu. Ia adik yang baik. Saya pernah mengganti kawan saya mengisi halaqahnya, dan si adik selalu saja izin ke hijab karena dicari beberapa ikhwan seorganisasi yang ada perlu dengannya. Karena itu saya ingat dia. Dia berpenampilan selalu sederhana, sekalipun di kemudian hari saya dapat kabar dia ternyata anak pejabat tinggi. Setiap bertemu saya dia selalu menyapa ramah dan menemani saya mengobrol lama.

Singkat cerita semakin galaulah si ikhwan ini. Ia hanya ingin menikah dengan si adik itu sahaja. Tak boleh yang lain. Sekalipun standarnya amat tinggi. Belum lagi posisi akhwat itu di jamaah. Si ikhwan ini mah butiran debu.

Sayapun mengiyakan untuk menghubungi akhwat itu langsung (karena saya dan suami sudah agak terganggu oleh si ikhwan yang menghubungi hampir tiap malam untuk curhat). Tanpa perantara murobbiyah. Kenapa? Yah, karena jalur pernikahan bukan itu saja yang halal kan?

Saya menanyakan kepada si akhwat apakah ia bersedia taaruf, tanpa saya bocorkan identitas si ikhwan. Cuma ingin mengetahui kesiapan akhwat ybs untul melangkah ke tahapan hidup selanjutnya. Dan jawabannya: ia diskusikan dulu dengan murobbiyahnya dan sholat. Alhamdulillah... jawaban ini bercerita banyak: bahwa boleh jadi ini taaruf pertamanya, dan ia sebenarnya belum berpikir ke arah pernikahan, tetapi kalau saja jodohnya datang, maka tak patut ia menghindar.

Beberapa waktu setelahnya saya mendapat pesan dari si akhwat dengan membaca basmalah ia siap taaruf, akan tetapi harus melibatkan murobbiyahnya.

Saya dan murobbiyahnya saling kenal dan cukup akrab, sayapun memberikan biodata si ikhwan. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya ketika identitas si ikhwan terbongkar sungguh di luar dugaan. Berhari-hari tidak ada biodata balasan dari sang akhwat, sampai si ikhwan kembali galau dan dilanda kesedihan. Kami membujuk murobbiyahnya untuk memberikan biodata, dan naas, biodata yang kami terima jauh dari layak untuk dikatakan biodata proposal pernikahan.

Murobbiyah si akhwat menghubungi saya berkali-kali, meminta pembenaran atas sikap mutarabbinya tersebut. Bahwa itu merupakan haknya sepenuhnya untuk memutuskan taaruf. Tapi ini tidak konsisten dengan perkataan si akhwat bahwa ia siap... setidaknya ia harus melalui semua proses dengan lapang dada.

Alhasil, suami saya menelpon sendiri ke suami murobbiyah si akhwat meminta proses ini dilanjutkan sebagaimana mestinya, dan keputusan menikah atau tidak diletakkan di akhir proses bukan di tengah.

Singkat cerita si ikhwan dipertemukan dengan akhwat dengan mediator murobbiyahnya. Si ikhwan berharap, sangat berharap pertemuan ini bisa meluluhkan hati si akhwat. Meski nyatanya keputusan si akhwat sudah bulat: ia tak ingin melanjutkan taaruf. Si ikhwan ini putus asa.

Beberapa kali saya bertemu dengan si akhwat dan sepertinya ia mulai menganggap saya tidak ada. Entah salah saya di mana dalam cerita ini, sepertinya ada distorsi. Saya dan suami adalah pihak netral yang menginginkan kebaikan bagi baik si ikhwan maupun si akhwat, dan nampaknya saya telah dianggap menjerumuskannya untuk mah menikahi si ikhwan. Allahurobbi... banyak hubungan pertemanan yang tidak lagi sama setelah hari itu.

Juli 2016, si ikhwan setelah sekian lama menghubungi suami saya lagi agar diuruskan lagi dengan si akhwat. Suami saya menolak matimatian. Saya yang tahu si ikhwan menghubungi lagi jadi sedikit tersulut emosi. Ikhwan ini apa hidup di buku ketika cinta bertasbih, ya? Biar saya beritahu beberapa hal tentang penolakan akhwat secara general:

1. Ia tidak suka denganmu
2. Ia tidak suka denganmu
3. Ia suka orang lain.

Sudah itu saja.

Saturday, July 2, 2016

Anak Sholihah InsyaAllah

Sungguh bersyukur mendapatkan petunjuk Allah dalam mendidik anak. Seharusnya mendidik anak bukanlah hal yang rumit, cukup membaca cues atau arahan Allah yang dizahirkan lewat anak. Karena itulah, sesungguhnya yang belajar ialah orangtua, anak hanya menjalankan fitrahnya secara alamiah sesuai ketetapan Allah. Selebihnya kita yang belajar dan berusaha.

Saat anak kita baru lahir, ia menangis lapar dan mencari makan dengan mulutnya yang mungil. Kita belajar bahwa pada saat itu yang paling sesuai baginya ialah ASI yang mengalir dialirkan Allah dari diri kita.

Saat ia masih juga menangis, kita belajar bahwa Allah telah menciptakan tangan kita untuk meraih, mendekapnya dekat agar ia dapat mendengar detak jantung kita yang akrab semasa ia dalam kandungan.

Saat ia mengisap jempolnya, kita membiarkannya karena mempelajari bahwa setiap kali ia mengisap jempol ia menjadi lebih tenang dan tidak rewel, sehingga kita menyimpulkan bahwa itu sebuah kecerdasan alamiah untuk menenangkan dirinya sendiri.

Saat ia belajar makan makanan padat, kita melihat bahwa ia tak mampu menelan yang lebih padat dari puree dan kitapun mulai berkutat dengan saringan dan bahan makanan serba natural. Kadang ia mencoba menggenggam, dan kita memanfaatkan kesempatan ini dengan memberinya potongan buah yang aman sambil ia belajar mengenali tekstur.

Saat nampaknya ia bosan dengan posisi horizontal, kita mulai memangkunya dan memperlihatkannya dunia dalam posisi vertikal sehingga ia terbujuk untuk duduk.

Saat ia mulai mengenal mainan, kita memberikannya semua mainan yang ia butuhkan untuk melatih motorik dan sensoriknya. Warna cerah. Manik-manik untuk dexterity. Buku untuk menggantikan tv.

Saat ia mulai berbicara, kita belajar untuk meresponnya sehingga ia mau berkomunikasi dua arah dengan kita. Menjauhkannya dari komunikasi satu arah seperti gadget dan tv yang rendah dimensi.

Saat ia mulai berdiri, kita mengapresiasinya dengan pelukan dan tepuk tangan dan selalu berada di sisinya karena ia masih belajar untuk seimbang.

...

Ah. Dua puluh sembilan hari lagi Gena genap setahun. Mau bilang tidak terasa ya? Rasanya tidak bisa karena keorangtuaan ini benar-benar kami nikmati setiap suka dan dukanya. Ketika ia menangis tiap malam selama sebulan lebih, dan ASI rasanya 'kurang'. Ketika ia membangun kebiasaan digendong sebelum tidur. Ketika ia melalui fase separation anxiety. Ketika ia mulai makan. Ketika ia mulai tengkurap-duduk-merangkak-berdiri. Ketika ia mulai meniru suara, gerak dan ekspresi. Ketika ia mulai punya mainan favorit. Semuanya terasa, setiap detiknya. Dan untuk semua keorangtuaan ini kami mengucap hamdalah. Semoga kamu selalu menjadi anak sholihah.