Sunday, April 8, 2018

Seperti Mutiara

Konde?

Ha! Rasanya jenuh mendengar hal yang sama berulang-ulang. Beberapa kalipun saya mencoba menahan diri untuk tidak berkomentar, tetapi untuk apa? Hanya menambah polusi di jagat maya yang belakangan ini benar-benar berkabut oleh emisi kata.

Saya mencoba diam dan tenang. Lalu itu jauh lebih berhasil.

Ingatan saya terbang pada sebuah majlis di sebuah ruang apartemen Rijtse Akkers di malam akhir pekan. Kata kuncinya ialah "Tesattur". Ia adalah terma untuk pengertian bahwa wanita sebagai perhiasan diwajibkan oleh Pencipta yang sangat menyayanginya untuk menutup diri. Ratu Elizabeth pernah berkunjung ke Tilburg University dan ia mendapat pengawalan yang amat ketat. Tak semua orang dapat melihatnya langsung, aplagi menyentuhnya. Begitu berharganya ia. Dan dalam Islam, semua wanita adalah Ratu Elizabeth. Dalam Islam, wanita ialah perhiasan dunia. Metafora yang amat indah bukan? Perhiasan selalu diperoleh dengan cara yang amat sulit. Mutiara berada di laut yang dalam, emas ditambang bersusah payah, intan berlian ditempa dengan luar biasa. Maka tak sembarang orang dapat menyentuhnya, bahkan melihatnya.

Sekali lagi tesattur saudaraku.


Thursday, February 8, 2018

Poorly Cited

I was delegated by the dean of the faculty I work at, to edit some bachelor thesis into journal articles. By far, finished three out of nine. And I am completely astounded by how much copying and pasting put in their work. Like... it was fully loaded with words of other, and claimed just like that in a thesis entitled to a student. It is sad.

I do not know if it just a mindless citation, laziness, or what. But come on, you know it's wrong right?
I mean, I remember all those sleepless nights working on my bachelor thesis. In order to get it examined,  I had  to
1. Consult my teacher in other country about the documentary I was about to make as a treatment on an experimental.
2. Gather proper samples from another department
3. Save  money to pay the respondent, for I wanted to take about 3 hours if their time
4. Translate the documentary, since it did not have any Indonesian translation
5. Invite the respondents to a laboratory
6. Analyze the results with spss which was totally new for me
7. Make narratives out of the results
8. So much correct citing (we have to underline this!)
9. Endless consultation with supervisor

Not  to mention my master thesis, it was just full of fatigues and tears. I could not explain a little better than that. How much effort have you give to your work? How did this all happen?
Don't you love what you do (read: research)? Don't you know when you admit to be a student, you vow to study, to serve the community and to do research?
Or do you only care about the diploma paper that prove that you are highly educated? If so, I am sorry to tell you that even a primary student, could do what you did.

So sad.

Friday, January 26, 2018

Ngobrol

Ngobrol

Rasanya hal yang paling saya senangi setelah menikah dengan Pak Ihsan adalah ngobrol dengan Pak Ihsan. 

Allah SWT menakdirkan saya dan Pak Ihsan nyambung sekali dan satu frekuensi untuk mengobrol panjang lebar. Pak Ihsan sangat menghargai pendapat saya, dan saya menghormati pendapatnya. Segala sesuatu mesti ada konsolidasi antara kami. Apalagi kami telah sepakat untuk memusingkan sedikit lebih banyak hal.

Seperti dia yang sambil cari nafkah sibuk mengurusi asosiasi penyelamatan anak muda dari menggemari lagu Ed Sheeran. Dan saya, yang sambil mengurusi anak-anak, sibuk meyakinkan mahasiswa untuk semangat penelitian kuantitatif.

Selain memusingkan empat kegiatan utama itu, kami berdua masih punya berjubeljubel topik untuk didiskusikan sepanjang hari, mulai dari kapitalisme bahan-bahan makanan kita, politik praktis dan mengapa orang-orang mengambil pilihan tertentu, manhaj, sampai kapan Pluim dijual PSM.

Itu masih 1% topik hangat yang selalu kami bicarakan.

Dan memang selalu, ada yang kurang saat kami belum ngobrol berdua seharian. 

Mengobrol dengan dia membuat saya lebih sistematis dalam mengolah retorika, karena dia sebagai mantan ketua LDK (Lembaga Dakwah Kampus) memang memiliki kemampuan analisis konseptual yang luar biasa, dan sangat sistemik dalam mengungkapkan konsep-konsep. Belum lagi ingatan long-termnya. 

Mengobrol dengan dia juga membuat saya terbiasa dengan obrolan "bigger picture". Sehingga saat keluar untuk rapat di fakultas misalnya, saya selalu mencari frekuensi yang sama sepertinya. Dan kalau orang-orang sudah mengobrol sesuatu terlalu jauh dari konteks, saya merasa tersesat dan berakhir pulang uring-uringan.

Ini membuat saya jadi punya sedikit teman.

Dalam sebuah obrolan, Pak Ihsan mencoba menganalisis mengapa saya cenderung tidak (lagi) nyambung obrolan dengan jaringan sosial yang saya punya. Adakah yang salah dengan kepribadian saya?

"Karena kamu punya terlalu banyak hal untuk dipikirkan dik. Kamu mau memastikan bahwa ketika kamu keluar konteks, itu pantas. Worth it. Kalau tidak worth it, kamu stress. Saranku kamu menjauh dari apa yang membuat kamu stress. Pikirkan anak-anak, pikirkan mahasiswa, pikirkan disertasi."

Betul juga, yang akan dipertanggungjawabkan kelak adalah bagaimana saya mendidik anak-anak saya, dan bagaimana saya menghabiskan masa muda (?) saya. Saya punya tujuan dalam hidup yang telah kami konsolidasikan bersama.

Lalu saya teringat Ummi, ibu kandung saya. Beliau sudah kadung lama meninggalkan apa-apa yang tidak terlalu perlu ia pikirkan. Yang menjadi kewajiban beliau adalah menaati Aba untuk merawat anak dan membantu usaha Aba. Per hari ini, beliau telah menjadi wanita kuat yang sangat berpengaruh pada perusahaan yang cukup besar, dan semua anaknya menyayanginya, dan saya haqqul yakin suaminya ridho terhadapnya.


Akhirnya, tidak mengapa kita punya sedikit jaringan sosial, karena bagi perempuan yang telah menjadi istri, mengobrol dengan suami saja sudah cukup; ridho suami semata sudah cukup. Sudah sangat cukup.