Wednesday, January 21, 2026

Allah Memberi Kita Bakti

Februari sampai Juli 2025 itu berat

Setelahnya pun tidak kalah berat, seperti hujan batu. 

Lalu kita melaluinya. 

BersamaNya. 

Bahkan Ia mengganti milyaran kali lebih banyak dari apa yang telah jatuh dari tangan kita: undangan ke rumahNya, serta bakti yang tidak akan pernah membuat kita menyesal selamanya. 

Apakah kamu ingat membaca narasi Uwais Al Qarni di sebuah perpisahan dengan suara-suara manis yang kerap memanggil namamu? Hari itu kita memberi petuah kepada mata-mata polos itu untuk menjadi seperti Uwais. 

Seorang pria berumur yang kuhormati pula hadir di sana. Mendengarmu. Meneteskan air mata.

Beliau ingin menjadi Uwais.

Anak-anak ingin menjadi Uwais.

Kita semua ingin menjadi Uwais. 

Namun  kamulah yang dipilih Allah hari ini menjadi dia. 

Allah... Allah... betapa Engkau mencintai kami. Segala puji hanya milikMu ya Rabb. 

Sunday, July 6, 2025

Beban

Sampai bulan kemarin, aku masih tidak tahu bahwa ada gunung besar yang kamu pikul sendirian.

Kamu berkata semua baik. Aku percaya.

Sampai sebuah batu besar dari gunung di punggungmu menggelinding jatuh, bergemuruh bunyinya tidak terhindarkan lagi.

Melukaiku. Separuh.

Lalu saat itulah tirai yang menutup mataku terbuka.

Aku tidak tahu bagaimana mengatur air wajah saat ini demi melihat semua beban itu.

Aku cuma bisa berpikir, mungkin Allah yang terkasih merindukan doa-doa kita.

Sunday, October 23, 2022

Mangga dan Alpukat

Mangga sedang musimnya, biasanya beliau akan banyak tersenyum pada bulan-bulan ini.

Hari ini aku datang menemui beliau, membawakan alpukat yang beliau sukai, sembari mengolah alpukat itu, beliau mengupaskan mangga untukku.

Bercerita tentang kelelawar, dan atap ketiban mangga.

Aku icip mangga yang ibu beliau tanam. Rasanya seperti dulu, dan hampir saja aku lupa.

Alpukat yang kubawa malah rasanya tidak seperti kemarin, yang ini pahit dan sepat.

Tetapi beliau tidak membuangnya, beliau tuang lebih banyak pemanis di atasnya.

Mungkin mangga itu seperti perasaan beliau terhadapku yang tidak pernah berubah, hanya saja aku seperti alpukat, terlalu banyak berubah: sekali waktu baik, sekali waktu pahit, dan beliau coba memperbaiki itu -bersangka baik terhadapku yang terlalu sering berburuk sangka.

Astaghfirullah al Adziim, robbighfirlahumaa.