Monday, March 12, 2012

Raudah, Sepetak Taman di Surga

Entah sejak kapan saya mulai mengenal Raudah, yang saya tahu hanyalah bahwa saya ingin mengunjungi tempat ini sejak saya tahu tentangnya.
Di sana manusia mulia itu terbaring berisitirahat, beliau berkata antara makam dan mimbarnya adalah tempat di mana doa mustajab, karena itulah taman di surga yang dinamakan Raudah.
*
Malam setelah isya (28/02), seorang Ablah (polisi wanita) Masjid Nabawi datang ke tengah shaf, menaiki kursi dan membawa megafon. Ia berujar bahasa Turki, meminta muslimah-muslimah Turki berkumpul di hadapannya. Muslimah Turki yang kebanyakan sudah berusia paruh baya itu ada yang berkumpul, ada pula yang tak acuh terhadap panggilan sang Ablah. Mereka yang tak acuh malah mendekati gerbang-gerbang pembatas shaf pria, mengintip sesuatu di balik shaf.
Awalnya yang saya lihat hanya muslimah Turki, tapi rupanya muslimah India juga melakukan hal yang sama, mereka kekeuh berdiri depan gerbang shaf, seperti menanti sesuatu terjadi.
*
Siang itu saya melihat gerbang shaf pria terbuka, itu berarti muslimah boleh masuk ke Raudah. Tapi perjalanan memasuki Raudah sama sekali tidak mudah, ribuan akhwat juga digerakkan rasa cinta yang sama pada Rosul, sehingga jika hanya satu gerbang yang dibuka, semua tahu apa yang akan terjadi.
Ablah marah pada kerumunan muslimah yang berdesak-desakan dan segera menutup gerbang. Siang itu saya tak jadi masuk Raudah.
*
Sehabis isya, drama yang sama kembali terjadi. Kali ini Ablah tak hanya mengumpul muslimah Turki, banyak nama negara diteriakkan, termasuk Indonesia: "Indonesia, ya Ibu! Sama-sama Malaysia. Malaysia! Indonesia!" saya lalu mengikuti teriakan-teriakan itu. Sementara muslimah Turki berhambur sana-sini tak mau ikut Ablah.
Muslimah Indonesia dan Malaysia sedang duduk melingkar dengan tenang, jauh dari gerbang shaf. Saya bergabung dengan lingkaran itu, lingkaran sabar kalau saya bilang. Mereka hanya duduk menunggu giliran masuk Raudah sambil tadarrusan. Di sekeliling kami, muslimah dari negara lain sedang ribut lari dari Ablah yang hendak menghimpun mereka.
"Kita bisa sampai jam 11 di sini nunggunya." bisik-bisik itulah yang saya dengar.
Sebenarnya menunggu sampai jam 11 tidak pernah masalah buat saya, saya sudah menunggu bertahun-tahun untuk bisa mencapai haramain, hanya menunggu sampai jam 11 sama sekali tidak ada bandingannya. Jadi saya meneruskan tadarrus sampai satu juz dan alhamdulillah, giliran Indonesia dan Malaysia memasuki Raudah akhirnya tiba.
Kami berdiri dan berjalan mengikuti dua Ablah yang bisa berbahasa Indonesia, kami melewati gerbang pembatas shaf pria dan wanita dan jalan cukup jauh dalam masjid Nabawi hingga tiba di bagian paling indah di masjid itu.
Bagian itu langit-langitnya lebih rendah daripada seluruh masjid Nabawi, pilar-pilarnya berwarna hijau dan emas, kandelirnya adalah lampu-lampu yang bertulis sholawat. Jika berdiri di depan bagian masjid ini, nampak kubah hijau di atasnya, dan tepat di bawah kubah itulah berbaring Sayyidina Muhammad SAW dan Abu Bakar RA. Tak jauh dari makam adalah mimbar di mana Rosul pernah berdiri untuk menyampaikan kebaikan yang menjadi jalan hidup kita.

Allahu Akbar. Alhamdulillahi robbil alamin. Sungguh, berada di Raudah adalah perasaan yang tidak mampu saya gambarkan dengan kata-kata apapun. Mungkin karena surga memang tak akan mampun dideskripsikan oleh manusia, dan Raudah 'hanyalah' sepetak taman di surga. Jika dibolehkan, sungguh saya hanya akan terus tinggal di hadapan Raudah dan berdoa, tetapi demi melihat mimbar Rosul, dua puluh tiga tahun dakhwahnya bukan hanya mengenai itu. Akhirnya dengan hati yang memohon tinggal lebih lama, saya keluar dari Raudah, membiarkan muslimah lain yang sama bahkan lebih mencintai Rosul untuk bersholawat dan berdoa kepada Allah SWT.

No comments: