Sunday, October 18, 2009

My Pathetic Dusty Highway-friend *)


"Karim, mungkin nggak kita melakukan perjalanan ini?" tanyaku.

Wajahmu pias, kening berkerut. Kulit hitam legammu disaput debu karena perjalanan di tol siang tadi. Pasti kau lelah, kamu ingin duduk sejenak di bawah bayangan yang menjadi tamengmu atasi serangan pijar matahari. Aku tahu itu. Tapi siapa lagi yang akan kumintai pendapat? Kau yang telah menemani ratusan ribu kilometer langkahku. Kau yang akan menemani ratusan ribu kilometer langkahku. Kita berdua sudah sepakat tentang hal ini, bukan?

"Tapi itu jauh sekali, Dho! Kalaupun aku mau menemanimu menempuh perjalanan sejauh itu, usia uzurku yang akan menghalau kita. Apa jadinya kalau aku pingsan di tengah jalan." Katamu realistis.

Karim... Karim... dia pikir aku akan membiarkan itu terjadi. Aku percaya pada kekokohanmu, kau tidak selemah bayanganmu. Apa yang membuat kau selama ini selalu saja ada untukku? Itu kekuatan di balik kerapuhan penampilanmu.

"Kalau kau pingsan, aku akan memanggil ambulan." sahutku, setengah bercanda, dan sedikit serius.

Lama, kau hanya hening. Celingak-celinguk memandangi jalan raya yang riuh. Aku tiba-tiba ingat pertemuan pertama kita, September dua tahun lalu. Saat itu kau hanya bergeming di garasi rumah orang. Rapih dan bersih. Saat itu entah kenapa aku gugup minta ampun, kau tahu tidak perkataan orang, ketika kita bertemu jodoh, perasaan kita jadi tidak menentu. Persis itu yang kualami, Karim.

Kemudian Aba setuju menerimamu sebagai kawan perjalananku. Dari balik kaca film mobil Aba, aku hanya bisa menatapmu harap-harap cemas. Semoga kau kawan yang tepat.

Aku sulit sekali beradaptasi atas kehadiranmu. Aku belajar, dan terus belajar. Aku harus mengenalmu, perjalanan ini akan panjang.

Dan akhirnya, di sinilah kau teman seperjalanan! Kau kan selalu ada. Mendengar ocehanku, gerutuku, syukurku, dan isakku. Kalau Masyari Rasyid mulai bertilawah, kita sama-sama tenang mendengarnya. Kalau Backstreet Boy bersenandung, kita sama-sama lirih mengikutinya. Kalau seseorang ikut bersama kita, kau sukses kuabaikan.

Ada beberapa dimensi dari dirimu Karim, yang kurenungi dan kudapatkan pelajaran berharga. Kau memberiku sedikit ruang melihat masa lalu, mungkin untuk dipilah pelajaran terbaiknya. Kau menyediakan sepetak prospek, cukup untukku selalu menatap ke depan. Dan kau memberi ruang terlebar untuk masa kini, di mana aku bisa menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan aku tidak sesat.

Sekalipun penampilanmu tidak meyakinkan, tak jarang orang mencibir kalau aku datang dengan kau, aku tidak pernah memberi hal semacam itu perhatian lebih. Rasanya, aku telah terbiasa dengan hadirmu, Karim, menemani setiap perjalananku. Kau tahu tidak, kalau kau sakit, akulah yang menderita.

Entah sampai kapan aku bertahan bersamamu. Kau belakangan ini selalu batuk, usiamu memang sudah tua. Beberapa hal dalam dirimu kadung rusak karena usia. Tapi yang akan pergi adalah kau, aku tidak akan meninggalkanmu sampai saat itu.

Hpfh, Suzuki Karimun-ku tersayang, stay alive ya! Jangan mogok-mogok pas ada perjalanan penting. ^^;

*maaf, keracunan TOEFL

No comments: